infolaras

Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)
Bagikan:
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN GARUT

OVERVIEW KEJADIAN BENCANA PER BULAN

Januari

Pada Januari 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 29 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 23 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 3 kejadian banjir, 2 kejadian cuaca ekstrim, dan 1 kejadian lainnya. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 693 jiwa terdampak, 7 unit rumah rusak, 3 unit rumah rusak ringan, 73 unit rumah terancam rusak, 1 unit fasilitas peribadatan, 1 unit fasilitas umum, 7 unit kios, 4 titik jembatan, 0,05 km jalan, dan 0,028 Ha. Hal ini terjadi karena curah hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi di wilayah Kabupaten Garut. Hal ini didukung oleh analisis curah hujan Januari 2021 yang dikeluarkan oleh BMKG, wilayah Kabupaten Garut memiliki curah hujan menengah hingga tinggi. Pada Sebagian wilayah Kabupaten Garut mengalami hujan lebat dan cuaca ekstrim pada bulan ini.

Bencana tanah longsor terjadi di Jalan Provinsi di Cijagir/Kp. Imut Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Kp. Salam Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Ciawitali Desa Girimukti, Jalan provinsi di Cigembong Desa Mekarsewu Kecamatan Cisewu pada pukul 16.00 WIB 09 Januari 2021 serta di Kp. Cibinong RT.02, RT.03 / RW.05 Desa Mekarmulya dan Kp. Pilar RT 07, RW 02 Desa Sukalaksana Kecamatan Talegong pada pukul 13.00 – 17.00 WIB 09 Januari 2021. Berdasarkan peta prakiraan potensi terjadinya Gerakan tanah provisi Jawa Barat bulan Desember 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana dan sekitarnya termasuk Zona potensi terjadinya Gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadinya Gerakan tanah. Arus lalin dan akses warga masyarakat dari Wilayah Cisewu ke arah Talegong, Pangalengan lumpuh total demikian juga arah sebaliknya. Kondsi ini diperparah dgn ambruknya jembatan sungai Citalegong pada jalur jalan provinsi di wilayah Kecamatan Talegong. Jumlah seluruh korban terdampak tanah longsor Desa Mekarmulya berjumlah 116 KK dengan jumlah jiwa 333 sedangkan desa Sukalaksana berjumlah 16 kk dengan jumlah jiwa 49.Tercatat sebanyak 67 KK 192 jiwa mengungsi di SDN 3 Mekarmulya dan 63 KK 170 Jiwa Mengungsi di kobong masjid RT 03,RW 04.Tidak ada korban jiwa meninggal dan hilang dalam kejadian ini

Februari

Di bulan Februari tahun 2021 terjadi bencana tanah longsor. Terdapat 194 kejadian an-nasr yang telah menyebabkan dampak Pak 330 jiwa dan mengakibatkan 629 jiwa mengungsi dan terdampak titik terdapat rumah rusak berjumlah total 132 unit rumah terdampak diantaranya 11 rusak berat 27 rusak sedang 59 rusak ringan dan diantaranya juga ada 35 terendam fasilitas pendidikan 2 unit fasilitas umum 5 unit Jembatan 4 titik ataupun unit Jalan 0,2 M2 sawah kebun part 2 m2.

Selama Februari, ada 3 kejadian bencana alam dari periode sejak tanggal 1 sampai dengan 28 diantaranya bencana tanah longsor 11 Kejadian diwilayah yang terdampak diantaranya meliputi Kecamatan Kadungora (1x Kejadian), Kecamatan Cilawu (1x Kejadian), Kecamatan Banjarwangi (3x Kejadian), Kecamatan Cisompet (1x Kejadian), dan Kecamatan Singajaya (1x Kejadian). Kejadian banjir meliputi wilayah Kecamatan Banjarwangi (1x Kejadian) dan Cuaca Ektrim di wilayah terdampak Kecamatan Cisompet (1x Kejadian). Dari 15 kejadian bencana tersebut, 90 diantaranya merupakan bencana hydrometeorology. Tanah Longsor menjadi kejadian bencana yang cukup banyak dibandingkan dengan kejadian banjir.

Berdasarkan keterangan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada Februari dan Maret wilayah Indonesia memasuki puncak musim penghujan. Sehingga, hujan dengan intensitas sedang sampai dengan tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.

Maret

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Maret menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. 30 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 13 kejadian banjir, 3 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Kejadian bencana tersebut menimpa 15 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Garut Kota dan Tarogong Kaler sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Sukawening, Pasirwangi, Tarogong Kidul, Wanaraja, Talegong, Sukaresmi, Pameungpeuk, Malangbong, Kadungora, Cisewu, Cibatu, Banyuresmi, dan Leles. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 428 jiwa terdampak, 2 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, 2 unit 2 rumah rusak ringan, 117 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas Pendidikan, 1 unit kios, 248 m TPT, 1 jembatan, dan 60 m jalan terdampak bencana.

Tanah longsor yang terjadi di Kampung Sintok RT 04, RW 02, Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. (Koordinat: o o 7 13’01.256” LS – 107 45’22.259” BT, Elevasi: 1510 mdpl) pada tanggal 23 Maret 2021 telah mengalami kejadian yang sama dalam skala relatif lebih kecil pada waktu-waktu sebelumya. Tebing longsoran memiliki dimensi lebar sekitar 30 meter dengan tinggi tebing longsoran mencapai sekitar 100 meter. Longsoran dipicu oleh beberapa faktor di antaranya: o o · Kondisi morfologi tebing yang memiliki kemiringan tinggi, hampir mendekati vertikal (70 -80 ). · Kondisi tanah di lokasi kejadian yang tersusun oleh tanah lapukan volkanik yang tidak terkonsolidasi sempurna. · Intensitas curah hujan tinggi dan durasi yang cukup panjang Dampak dari kejadian ini adalah satu unit (1 unit) rumah dalam kondisi rusak berat, tujuh unit (7 unit) rumah lainnya dalam kondisi terancam, satu KK (1 KK) terdampak, dan tujuh KK (7 KK) dalam kondisi terancam.

Upaya yang telah dilakukan oleh BPBD Kabupaten Garut adalah melakukan assessment ke lokasi kejadian, pemberian bantuan logistik, pendataan korban terdampak, pengambilan foto udara, dan berkoordinasi dengan pihak Kecamatan dan Dinas PUPR untuk upaya penanganan selanjutnya.

April

Bulan April adalah bulan dimana penurunan curah hujan dari bulan-bulan sebelumnya terjadi. Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah pada bulan April. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat bawah normal (BN). Namun, di beberapa wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat.

5 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini merupakan bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 2 kejadian tanah longsor, 1 kejadian banjir, dan 2 kejadian angina kencang. Kejadian bencana tersebut menimpa 5 kecamatan di Kabupaten Garut dengan masing-masing kecamatan mengalami 1 kejadian bencana diantaranya, Kecamatan Bayongbong 1 kejadian tanah longsor, Tarogong Kaler 1 kejadian angina kencang, Pasirwangi 1 kejadian angin kencang, Garut Kota 1 kejadian banjir, dan Cikajang 1 kejadian tanah longsor. Kejadian bencana ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 253 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak ringan, 54 unit rumah terendam, 1 unit fasilitas umum, 1 unit kios, 6 m jalan, dan 0,006 Ha terdampak bencana.

Kamis, 15 April 2021 pukul 18.00 WIB terjadi banjir di Kelurahan Kota Wetan Kabupaten Garut tepatnya di Kampung Sukaregang RT 03/04/05 RW 18. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota semenjak sore hingga malam hari, mengakibatkan terjadinya luapan air dari Selokan Cigulampeng di Kampung Sukaregang, Kota Wetan yang mulai terjadi pukul 18:00 WIB. Akibat luapan air ini, lima puluh empat (54) unit rumah di sekitaran area selokan terendam air setinggi 20 cm – 70 cm. Banjir di lokasi ini adalah banjir yang rutin terjadi beberapa tahun terakhir ketika musim hujan tiba, namun kejadian kali ini adalah kejadian yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banjir disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: intensitas hujan tinggi, lebar selokan yang sempit, pintu air yang macet sehingga memperlambat aliran air, terdapat kolam ikan yang meluap, dan posisi selokan lebih tinggi dibandingkan dengan pemukiman.

Mei

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada bulan mei 2021, adalah tanah longsor dengan 2 kejadian dan banjir dengan 1 kejadian dengan total kejadian 3 kejadian. Tercatat akibat kejadian tersebut 2 rumah terendam, 7 Jiwa terdampak, 0,002 jalan, 2 Ha Sawah/ Kebun dan 1 Unit Irigasi. Sejak awal 2021 hingga akhir Bulan Mei bencana Hidrometeorologi Tanah Longsor dan banjir masih mendominasi kejadian bencana yang terjadi di kabupaten Garut. Kecamatan Cilawu menjadi Kecamatan dengan kejadian tertinggi selama Bulan Mei, yaitu dengan 2 kejadian Bencana tanah longsornya.

Kecamatan Cilawu 2 kali dilanda Tanah longsor yaitu satu pada hari Senin, 17 Mei 2021 Pukul 05.00 WIB di Kampung Cigangsa Desa Sukamaju Kecamatan Cilawu kabupaten Garut. Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota dan sekitarnya pada sore sampai malam hari, mengakibatkan tanah pada tebing jalan jenuh air dan menjadi tidak stabil sehingga terjadinya tanah longsor pada tebing dan menutup bahu jalan sepanjang 20 M. Pada hari Senin, 24 Mei 2021 Pukul 19.00 WIB terjadi lagi bencana tanah longsor di kecamatan Cilawu, tepatnya di Blok Cinangka, Kampung padarek RT/RW 05/02. Intensitas hujan yang tinggi semenjak sore hari mengakibatkan terjadinya longsoran dengan dimensi lebar 30 m dan tinggi 20 m di tebing sisi sungai sub DAS Cinangka. Longsoran ini mengakibatkan terjadinya penyumbatan sungai dan mengakibatkan terjadinya luapan air sungai ke area persawahan warga yang berada di sebelahnya. Air luapan sungai yang masuk ke sawah mengakibatkan tanah di area persawahan jenuh oleh air memicu terjadinya longsoran di area persawahan. Akibat kejadian ini, seluas 2 ha area persawahan milik warga rusak akibat luapan air dan longsor.

Longsor di area persawahan juga mengakibatkan tiang-tiang saluran irigasi gantung ambruk. Adapun upaya yang telah dilakukan adalah gotong-royong untuk membersihkan material longsoran yang menyumbat sungai, serta perkuatan sementara dengan menggunakan karung yang diisi material. Perlu dilakukan upaya lanjutan berupa perkuatan tebing longsoran dengan menggunakan bronjong serta perbaikan dan perkuatan tiang-tiang saluran irigasi gantung yang ambruk akibat longsoran.

Juni

Pada Juni 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 9 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 5 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, 1 kejadian kegagalan konstruksi, dan 2 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 673 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak berat, 14 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 220 unit kios, 18 meter TPT, 0,015 km jalan, dan 5,029 Ha. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Mei hingga bulan Juni. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Juni..

Tanggal 20 Juni 2021 pukul 23.00 WIB terjadi bencana kebakaran Pasar Sementara Leles yang secara administratif terletak di Alun-alun Leles, Desa Leles Kecamatan Leles sedangkan, secara geografis terletak di – 7.108294916616318˚ LS dan 107.8987042677023˚ BT. Daerah kejadian bencana merupakan pasar yang terdiri dari beberapa kios dan kaki lima yang padat. Material bangunan kios dan kaki lima adalah material yang mudah terbakar. Selain itu, letak lokasi kejadian merupakan pemukiman padat dan kawasan kantor pemerintahan. Adapun faktor penyebab kejadian kebakaran diduga karena percikan api yang terus menyebar pada material bangunan kios dan isinya. Sejumlah 412 kios dan 60 lapak kaki lima mengalami rusak berat karena hangus terbakar.

Juli

Agustus

Pada Agustus 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 7 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 4 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, dan 1 kejadian kebakaran. Pada Sebagian wilayah di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 107 jiwa terdampak, 4 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit kios, 0,21 km kolam, 24357,57 Ha, dan 1 unit konstruksi irigasi. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Juli hingga bulan Agustus. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan kekeringan terjadi karena curah hujan pada bulan Juli hingga Agustus rendah meskipun di beberapa wilayah kadang terjadi hujan dengan instensitas tinggi.

Terjadinya kekeringan di wilayah di Kabupaten Garut terutama di wilayah Kecamatan Cibatu lalu disertai dengan kajian BPBD Garut mengenai kekeringan dengan hasil potensi kekeringan yang mungkin terjadi di Sebagian besar wilayah Kabupaten Garut mendorong dikeluarkannya surat keputusan tanggap darurat kekeringan pada bulan Agustus ini. Hal ini diantisipasi dengan mitigasi bencana kekeringan ke wilayah kejadian dan upaya penanganan darurat pada wilayah kejadian kekeringan.

September

Peningkatan curah hujan yang terjadi dari bulan Agustus ke bulan September tidak menjadikan adanya peningkatan kejadian bencana pada bulan September bahkan terjadi penurunan kejadian bencana. Pada September 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 5 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 3 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 21 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, dan 5 meter jalan terdampak.

Kecamatan Cilawu menjadi kecamaten dengan frekuensi kejadian paling tinggi yaitu 2 kali kejadian tanah longsor. Sedangkan, Kecamatan Talegong, Cibatu, dam Karangtengah mengalami masing-masing 1 kejadian bencana.

Oktober

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Oktober menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini.

23 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 7 kejadian banjir, dab 3 kejadian angin putting beliung. Kejadian bencana tersebut menimpa 12 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Tarogong Kidul sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Malangbong dengan 3 kejadian angina putting beliung dan 1 kejadian tanah longsor. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Cikelet, Cisompet, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang, Tarogong Kaler, Banjarwangi, Pameungpeuk, Cilawu, dan Samarang. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 290 jiwa terdampak, 14 unit rumah rusak sedang, 4 unit rumah rusak ringan, 36 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit fasilitas ibadah, 0,21 Ha kolam, 10100 m2 sawah/kebun/lahan, 76 m2 TPT, dan 56 m jalan terdampak bencana.

Frekuensi kejadian tanah longsor dan banjir meningkat dari bulan[1]bulan sebelumnya. Curah hujan semakin tinggi dan memicu terjadinya tanah longsor dan banjir yang cukup intens terjadi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah berakumulasi hingga menjadikan tanah semakin jenuh dengan air dan menjadikan tanah longsor. Begitupun dengan air permukaan dengan debit cukup tinggi memicu terjadinya banjir. Bulan ini menjadi awal dari kejadian-kejadian yang relatif berskala besar yang terjadi pada bulan setelahnya.

November

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan November ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem pada beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. Hal ini terbukti dengan pantauan secara visual dan laporan dari kecamatan – kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Garut yang menunjukan bahwa hujan terjadi hingga hampir setiap hari pada bulan ini.

Sejumlah 62 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 52 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir, 3 kejadian banjir bandang, 1 kejadian kebakaran, dan 4 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 23 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Balubur Limbangan sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 8 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Tarogong Kaler dengan 3 kejadian tanah longsor, 1 kejadian kebakaran, dan 1 kejadian lainnya lalu selanjutnya Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Cisompet, Kecamatan Cilawu, Kecamatan Pakenjeng, dan Kecamatan Pasirwangi yang masing-masing megalami kejadian sebanyak 4 kali kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Banyuresmi, Bayongbong, Caringin, Cibalong, Cikelet, Kadungora, Karangpawitan, Karangtengah, Malangbong, Pamulihan, Pangatikan, Peundeuy, Sukaresmi, Sukawening, Talegong, dan Tarogong Kidul.

Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Pada hari Sabtu, 6 November 2021 banjir bandang terjadi di Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus pada sekitar wilayah kejadian. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut memicu tanah pada lereng menjadi jenuh dan kritis sehingga akhirnya tanah longsor terjadi di beberapa titik dan membendung aliran air sungai. Tanah longsor inilah yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di wilayah tersebut. Kejadian ini mengakibatkan 1202 jiwa terdampak, 21 jiwa mengungsi, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, serta 1 unit jembatan rusak.

Setelah kejadian tersebut, banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa titik di Desa Cinta, Cintamanik, dan Caringin di Kecamatan Karangtengah serta Desa Sukawening, Mekarhurip, Mekarluyu, Sukamukti, dan Mekarwangi Kecamatan Sukawening. Berdasarkan pengkajian awal tersebut, kejadian banjir bandang tersebut terjadi pada hari Sabtu tanggal 27 November 2021 sekitar pukul 14.30 WIB. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang dan tanah longsor tersebut adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di hulu wilayah tersebut. Hal ini diperkuat oleh Peringatan Dini Cuaca Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat tanggal 27 November 2021 yang menyatakan bahwa pada tanggal 27 November 2021 pada pukul 13.20 WIB masih terjadi potensi Hujan Sedang-Lebat dan Angin Kencang di Kabupaten Garut yang meliputi Kecamatan Cibatu, Kersamanah, Malangbong, Sukawening, Karangtengah, dan Pangatikan. Kejadian bencana ini menimbulkan dampak berupa 6 unit rumah rusak berat, 12 unit rumah rusak sedang, 1 unit rumah rusak ringan, 79 unit rumah terendam, 2 unit fasilitas pendidikan, 1 unit sarana ibadah, 13 unit fasilitas umum, 3 unit jembatan, 32 Ha sawah/kebun, 3 unit peternakan, 505 m TPT, 300 m jalan, dan 5 unit irigasi terdampak bencana. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Desember

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Desember ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah hingga tinggi. Hal ini menunjukan penurunan intensitas dari bulan November namun, beberapa titik tetap mengalami curah hujan ekstrem beberapa kali.

Sejumlah 35 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 25 kejadian tanah longsor, 6 kejadian banjir, 3 angin putting beliung, dan 1 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 18 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Talegong sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 7 kejadian tanah longsor, 3 kejadian banjir, dan 1 kejadian putting beliung lalu disusul dengan Kecamatan Cisewu dengan 3 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian banjir lalu selanjutnya Kecamatan Singajaya dengan 2 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian lainnya. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Pamulihan, Kadungora, Pangatikan, Pakenjeng, Mekarmukti, Malangbong, Leles, Karangpawitan, Cilawu, Cikelet, Cibatu, Cibalong, Banyuresmi, Banjarwangi, dan Bl. Limbangan. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 289 jiwa terdampak, 8 unit rumah rusak berat, 5 unit rumah rusak sedang, 57 unit rumah rusak ringan, 8 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas ibadah, 1 unit kantor pemerintahan, 2 unit fasilitas umum, 2 unit kios, 810 m2 TPT, 8 unit jembatan, 238 m jalan, 1071 m2 sawah/kebun/lahan, 11 unit peternakan, 0,28 Ha kolam, dan 1 unit konstruksi irigasi terdampak.

Sabtu, 25 Desember 2021, BPBD Kabupaten Garut menerima laporan dari Camat Talegong mengenai kejadian banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa titik di Desa Mekarmulya, Desa Mekarwangi, dan Desa Selaawi Kecamatan Talegong. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah di Kecamatan Talegong adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di wilayah tersebut.

Bencana ini berdampak pada 189 warga yang akhirnya mengungsi, 8 unit rumah rusak, 1 unit fasilitas rusak, 1 unit fasilitas kesehatan rusak, 6 unit fasilitas umum, 4 unit jembatan, 1 unit kantor pemerintahan, serta sejumlah pertanian dan peternakan terdampak. Dalam menghadapi dampak ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan upaya[1]upaya penanganan darurat serta aktivasi sistem komando penanganan darurat bencana

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2021

PENUTUP

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs Terkait
Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN GARUT

OVERVIEW KEJADIAN BENCANA PER BULAN

Januari

Pada Januari 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 29 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 23 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 3 kejadian banjir, 2 kejadian cuaca ekstrim, dan 1 kejadian lainnya. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 693 jiwa terdampak, 7 unit rumah rusak, 3 unit rumah rusak ringan, 73 unit rumah terancam rusak, 1 unit fasilitas peribadatan, 1 unit fasilitas umum, 7 unit kios, 4 titik jembatan, 0,05 km jalan, dan 0,028 Ha. Hal ini terjadi karena curah hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi di wilayah Kabupaten Garut. Hal ini didukung oleh analisis curah hujan Januari 2021 yang dikeluarkan oleh BMKG, wilayah Kabupaten Garut memiliki curah hujan menengah hingga tinggi. Pada Sebagian wilayah Kabupaten Garut mengalami hujan lebat dan cuaca ekstrim pada bulan ini.

Bencana tanah longsor terjadi di Jalan Provinsi di Cijagir/Kp. Imut Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Kp. Salam Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Ciawitali Desa Girimukti, Jalan provinsi di Cigembong Desa Mekarsewu Kecamatan Cisewu pada pukul 16.00 WIB 09 Januari 2021 serta di Kp. Cibinong RT.02, RT.03 / RW.05 Desa Mekarmulya dan Kp. Pilar RT 07, RW 02 Desa Sukalaksana Kecamatan Talegong pada pukul 13.00 – 17.00 WIB 09 Januari 2021. Berdasarkan peta prakiraan potensi terjadinya Gerakan tanah provisi Jawa Barat bulan Desember 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana dan sekitarnya termasuk Zona potensi terjadinya Gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadinya Gerakan tanah. Arus lalin dan akses warga masyarakat dari Wilayah Cisewu ke arah Talegong, Pangalengan lumpuh total demikian juga arah sebaliknya. Kondsi ini diperparah dgn ambruknya jembatan sungai Citalegong pada jalur jalan provinsi di wilayah Kecamatan Talegong. Jumlah seluruh korban terdampak tanah longsor Desa Mekarmulya berjumlah 116 KK dengan jumlah jiwa 333 sedangkan desa Sukalaksana berjumlah 16 kk dengan jumlah jiwa 49.Tercatat sebanyak 67 KK 192 jiwa mengungsi di SDN 3 Mekarmulya dan 63 KK 170 Jiwa Mengungsi di kobong masjid RT 03,RW 04.Tidak ada korban jiwa meninggal dan hilang dalam kejadian ini

Februari

Di bulan Februari tahun 2021 terjadi bencana tanah longsor. Terdapat 194 kejadian an-nasr yang telah menyebabkan dampak Pak 330 jiwa dan mengakibatkan 629 jiwa mengungsi dan terdampak titik terdapat rumah rusak berjumlah total 132 unit rumah terdampak diantaranya 11 rusak berat 27 rusak sedang 59 rusak ringan dan diantaranya juga ada 35 terendam fasilitas pendidikan 2 unit fasilitas umum 5 unit Jembatan 4 titik ataupun unit Jalan 0,2 M2 sawah kebun part 2 m2.

Selama Februari, ada 3 kejadian bencana alam dari periode sejak tanggal 1 sampai dengan 28 diantaranya bencana tanah longsor 11 Kejadian diwilayah yang terdampak diantaranya meliputi Kecamatan Kadungora (1x Kejadian), Kecamatan Cilawu (1x Kejadian), Kecamatan Banjarwangi (3x Kejadian), Kecamatan Cisompet (1x Kejadian), dan Kecamatan Singajaya (1x Kejadian). Kejadian banjir meliputi wilayah Kecamatan Banjarwangi (1x Kejadian) dan Cuaca Ektrim di wilayah terdampak Kecamatan Cisompet (1x Kejadian). Dari 15 kejadian bencana tersebut, 90 diantaranya merupakan bencana hydrometeorology. Tanah Longsor menjadi kejadian bencana yang cukup banyak dibandingkan dengan kejadian banjir.

Berdasarkan keterangan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada Februari dan Maret wilayah Indonesia memasuki puncak musim penghujan. Sehingga, hujan dengan intensitas sedang sampai dengan tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.

Maret

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Maret menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. 30 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 13 kejadian banjir, 3 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Kejadian bencana tersebut menimpa 15 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Garut Kota dan Tarogong Kaler sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Sukawening, Pasirwangi, Tarogong Kidul, Wanaraja, Talegong, Sukaresmi, Pameungpeuk, Malangbong, Kadungora, Cisewu, Cibatu, Banyuresmi, dan Leles. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 428 jiwa terdampak, 2 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, 2 unit 2 rumah rusak ringan, 117 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas Pendidikan, 1 unit kios, 248 m TPT, 1 jembatan, dan 60 m jalan terdampak bencana.

Tanah longsor yang terjadi di Kampung Sintok RT 04, RW 02, Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. (Koordinat: o o 7 13’01.256” LS – 107 45’22.259” BT, Elevasi: 1510 mdpl) pada tanggal 23 Maret 2021 telah mengalami kejadian yang sama dalam skala relatif lebih kecil pada waktu-waktu sebelumya. Tebing longsoran memiliki dimensi lebar sekitar 30 meter dengan tinggi tebing longsoran mencapai sekitar 100 meter. Longsoran dipicu oleh beberapa faktor di antaranya: o o · Kondisi morfologi tebing yang memiliki kemiringan tinggi, hampir mendekati vertikal (70 -80 ). · Kondisi tanah di lokasi kejadian yang tersusun oleh tanah lapukan volkanik yang tidak terkonsolidasi sempurna. · Intensitas curah hujan tinggi dan durasi yang cukup panjang Dampak dari kejadian ini adalah satu unit (1 unit) rumah dalam kondisi rusak berat, tujuh unit (7 unit) rumah lainnya dalam kondisi terancam, satu KK (1 KK) terdampak, dan tujuh KK (7 KK) dalam kondisi terancam.

Upaya yang telah dilakukan oleh BPBD Kabupaten Garut adalah melakukan assessment ke lokasi kejadian, pemberian bantuan logistik, pendataan korban terdampak, pengambilan foto udara, dan berkoordinasi dengan pihak Kecamatan dan Dinas PUPR untuk upaya penanganan selanjutnya.

April

Bulan April adalah bulan dimana penurunan curah hujan dari bulan-bulan sebelumnya terjadi. Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah pada bulan April. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat bawah normal (BN). Namun, di beberapa wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat.

5 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini merupakan bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 2 kejadian tanah longsor, 1 kejadian banjir, dan 2 kejadian angina kencang. Kejadian bencana tersebut menimpa 5 kecamatan di Kabupaten Garut dengan masing-masing kecamatan mengalami 1 kejadian bencana diantaranya, Kecamatan Bayongbong 1 kejadian tanah longsor, Tarogong Kaler 1 kejadian angina kencang, Pasirwangi 1 kejadian angin kencang, Garut Kota 1 kejadian banjir, dan Cikajang 1 kejadian tanah longsor. Kejadian bencana ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 253 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak ringan, 54 unit rumah terendam, 1 unit fasilitas umum, 1 unit kios, 6 m jalan, dan 0,006 Ha terdampak bencana.

Kamis, 15 April 2021 pukul 18.00 WIB terjadi banjir di Kelurahan Kota Wetan Kabupaten Garut tepatnya di Kampung Sukaregang RT 03/04/05 RW 18. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota semenjak sore hingga malam hari, mengakibatkan terjadinya luapan air dari Selokan Cigulampeng di Kampung Sukaregang, Kota Wetan yang mulai terjadi pukul 18:00 WIB. Akibat luapan air ini, lima puluh empat (54) unit rumah di sekitaran area selokan terendam air setinggi 20 cm – 70 cm. Banjir di lokasi ini adalah banjir yang rutin terjadi beberapa tahun terakhir ketika musim hujan tiba, namun kejadian kali ini adalah kejadian yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banjir disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: intensitas hujan tinggi, lebar selokan yang sempit, pintu air yang macet sehingga memperlambat aliran air, terdapat kolam ikan yang meluap, dan posisi selokan lebih tinggi dibandingkan dengan pemukiman.

Mei

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada bulan mei 2021, adalah tanah longsor dengan 2 kejadian dan banjir dengan 1 kejadian dengan total kejadian 3 kejadian. Tercatat akibat kejadian tersebut 2 rumah terendam, 7 Jiwa terdampak, 0,002 jalan, 2 Ha Sawah/ Kebun dan 1 Unit Irigasi. Sejak awal 2021 hingga akhir Bulan Mei bencana Hidrometeorologi Tanah Longsor dan banjir masih mendominasi kejadian bencana yang terjadi di kabupaten Garut. Kecamatan Cilawu menjadi Kecamatan dengan kejadian tertinggi selama Bulan Mei, yaitu dengan 2 kejadian Bencana tanah longsornya.

Kecamatan Cilawu 2 kali dilanda Tanah longsor yaitu satu pada hari Senin, 17 Mei 2021 Pukul 05.00 WIB di Kampung Cigangsa Desa Sukamaju Kecamatan Cilawu kabupaten Garut. Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota dan sekitarnya pada sore sampai malam hari, mengakibatkan tanah pada tebing jalan jenuh air dan menjadi tidak stabil sehingga terjadinya tanah longsor pada tebing dan menutup bahu jalan sepanjang 20 M. Pada hari Senin, 24 Mei 2021 Pukul 19.00 WIB terjadi lagi bencana tanah longsor di kecamatan Cilawu, tepatnya di Blok Cinangka, Kampung padarek RT/RW 05/02. Intensitas hujan yang tinggi semenjak sore hari mengakibatkan terjadinya longsoran dengan dimensi lebar 30 m dan tinggi 20 m di tebing sisi sungai sub DAS Cinangka. Longsoran ini mengakibatkan terjadinya penyumbatan sungai dan mengakibatkan terjadinya luapan air sungai ke area persawahan warga yang berada di sebelahnya. Air luapan sungai yang masuk ke sawah mengakibatkan tanah di area persawahan jenuh oleh air memicu terjadinya longsoran di area persawahan. Akibat kejadian ini, seluas 2 ha area persawahan milik warga rusak akibat luapan air dan longsor.

Longsor di area persawahan juga mengakibatkan tiang-tiang saluran irigasi gantung ambruk. Adapun upaya yang telah dilakukan adalah gotong-royong untuk membersihkan material longsoran yang menyumbat sungai, serta perkuatan sementara dengan menggunakan karung yang diisi material. Perlu dilakukan upaya lanjutan berupa perkuatan tebing longsoran dengan menggunakan bronjong serta perbaikan dan perkuatan tiang-tiang saluran irigasi gantung yang ambruk akibat longsoran.

Juni

Pada Juni 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 9 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 5 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, 1 kejadian kegagalan konstruksi, dan 2 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 673 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak berat, 14 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 220 unit kios, 18 meter TPT, 0,015 km jalan, dan 5,029 Ha. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Mei hingga bulan Juni. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Juni..

Tanggal 20 Juni 2021 pukul 23.00 WIB terjadi bencana kebakaran Pasar Sementara Leles yang secara administratif terletak di Alun-alun Leles, Desa Leles Kecamatan Leles sedangkan, secara geografis terletak di – 7.108294916616318˚ LS dan 107.8987042677023˚ BT. Daerah kejadian bencana merupakan pasar yang terdiri dari beberapa kios dan kaki lima yang padat. Material bangunan kios dan kaki lima adalah material yang mudah terbakar. Selain itu, letak lokasi kejadian merupakan pemukiman padat dan kawasan kantor pemerintahan. Adapun faktor penyebab kejadian kebakaran diduga karena percikan api yang terus menyebar pada material bangunan kios dan isinya. Sejumlah 412 kios dan 60 lapak kaki lima mengalami rusak berat karena hangus terbakar.

Juli

Agustus

Pada Agustus 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 7 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 4 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, dan 1 kejadian kebakaran. Pada Sebagian wilayah di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 107 jiwa terdampak, 4 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit kios, 0,21 km kolam, 24357,57 Ha, dan 1 unit konstruksi irigasi. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Juli hingga bulan Agustus. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan kekeringan terjadi karena curah hujan pada bulan Juli hingga Agustus rendah meskipun di beberapa wilayah kadang terjadi hujan dengan instensitas tinggi.

Terjadinya kekeringan di wilayah di Kabupaten Garut terutama di wilayah Kecamatan Cibatu lalu disertai dengan kajian BPBD Garut mengenai kekeringan dengan hasil potensi kekeringan yang mungkin terjadi di Sebagian besar wilayah Kabupaten Garut mendorong dikeluarkannya surat keputusan tanggap darurat kekeringan pada bulan Agustus ini. Hal ini diantisipasi dengan mitigasi bencana kekeringan ke wilayah kejadian dan upaya penanganan darurat pada wilayah kejadian kekeringan.

September

Peningkatan curah hujan yang terjadi dari bulan Agustus ke bulan September tidak menjadikan adanya peningkatan kejadian bencana pada bulan September bahkan terjadi penurunan kejadian bencana. Pada September 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 5 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 3 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 21 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, dan 5 meter jalan terdampak.

Kecamatan Cilawu menjadi kecamaten dengan frekuensi kejadian paling tinggi yaitu 2 kali kejadian tanah longsor. Sedangkan, Kecamatan Talegong, Cibatu, dam Karangtengah mengalami masing-masing 1 kejadian bencana.

Oktober

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Oktober menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini.

23 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 7 kejadian banjir, dab 3 kejadian angin putting beliung. Kejadian bencana tersebut menimpa 12 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Tarogong Kidul sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Malangbong dengan 3 kejadian angina putting beliung dan 1 kejadian tanah longsor. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Cikelet, Cisompet, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang, Tarogong Kaler, Banjarwangi, Pameungpeuk, Cilawu, dan Samarang. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 290 jiwa terdampak, 14 unit rumah rusak sedang, 4 unit rumah rusak ringan, 36 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit fasilitas ibadah, 0,21 Ha kolam, 10100 m2 sawah/kebun/lahan, 76 m2 TPT, dan 56 m jalan terdampak bencana.

Frekuensi kejadian tanah longsor dan banjir meningkat dari bulan[1]bulan sebelumnya. Curah hujan semakin tinggi dan memicu terjadinya tanah longsor dan banjir yang cukup intens terjadi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah berakumulasi hingga menjadikan tanah semakin jenuh dengan air dan menjadikan tanah longsor. Begitupun dengan air permukaan dengan debit cukup tinggi memicu terjadinya banjir. Bulan ini menjadi awal dari kejadian-kejadian yang relatif berskala besar yang terjadi pada bulan setelahnya.

November

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan November ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem pada beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. Hal ini terbukti dengan pantauan secara visual dan laporan dari kecamatan – kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Garut yang menunjukan bahwa hujan terjadi hingga hampir setiap hari pada bulan ini.

Sejumlah 62 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 52 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir, 3 kejadian banjir bandang, 1 kejadian kebakaran, dan 4 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 23 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Balubur Limbangan sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 8 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Tarogong Kaler dengan 3 kejadian tanah longsor, 1 kejadian kebakaran, dan 1 kejadian lainnya lalu selanjutnya Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Cisompet, Kecamatan Cilawu, Kecamatan Pakenjeng, dan Kecamatan Pasirwangi yang masing-masing megalami kejadian sebanyak 4 kali kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Banyuresmi, Bayongbong, Caringin, Cibalong, Cikelet, Kadungora, Karangpawitan, Karangtengah, Malangbong, Pamulihan, Pangatikan, Peundeuy, Sukaresmi, Sukawening, Talegong, dan Tarogong Kidul.

Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Pada hari Sabtu, 6 November 2021 banjir bandang terjadi di Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus pada sekitar wilayah kejadian. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut memicu tanah pada lereng menjadi jenuh dan kritis sehingga akhirnya tanah longsor terjadi di beberapa titik dan membendung aliran air sungai. Tanah longsor inilah yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di wilayah tersebut. Kejadian ini mengakibatkan 1202 jiwa terdampak, 21 jiwa mengungsi, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, serta 1 unit jembatan rusak.

Setelah kejadian tersebut, banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa titik di Desa Cinta, Cintamanik, dan Caringin di Kecamatan Karangtengah serta Desa Sukawening, Mekarhurip, Mekarluyu, Sukamukti, dan Mekarwangi Kecamatan Sukawening. Berdasarkan pengkajian awal tersebut, kejadian banjir bandang tersebut terjadi pada hari Sabtu tanggal 27 November 2021 sekitar pukul 14.30 WIB. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang dan tanah longsor tersebut adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di hulu wilayah tersebut. Hal ini diperkuat oleh Peringatan Dini Cuaca Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat tanggal 27 November 2021 yang menyatakan bahwa pada tanggal 27 November 2021 pada pukul 13.20 WIB masih terjadi potensi Hujan Sedang-Lebat dan Angin Kencang di Kabupaten Garut yang meliputi Kecamatan Cibatu, Kersamanah, Malangbong, Sukawening, Karangtengah, dan Pangatikan. Kejadian bencana ini menimbulkan dampak berupa 6 unit rumah rusak berat, 12 unit rumah rusak sedang, 1 unit rumah rusak ringan, 79 unit rumah terendam, 2 unit fasilitas pendidikan, 1 unit sarana ibadah, 13 unit fasilitas umum, 3 unit jembatan, 32 Ha sawah/kebun, 3 unit peternakan, 505 m TPT, 300 m jalan, dan 5 unit irigasi terdampak bencana. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Desember

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Desember ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah hingga tinggi. Hal ini menunjukan penurunan intensitas dari bulan November namun, beberapa titik tetap mengalami curah hujan ekstrem beberapa kali.

Sejumlah 35 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 25 kejadian tanah longsor, 6 kejadian banjir, 3 angin putting beliung, dan 1 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 18 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Talegong sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 7 kejadian tanah longsor, 3 kejadian banjir, dan 1 kejadian putting beliung lalu disusul dengan Kecamatan Cisewu dengan 3 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian banjir lalu selanjutnya Kecamatan Singajaya dengan 2 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian lainnya. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Pamulihan, Kadungora, Pangatikan, Pakenjeng, Mekarmukti, Malangbong, Leles, Karangpawitan, Cilawu, Cikelet, Cibatu, Cibalong, Banyuresmi, Banjarwangi, dan Bl. Limbangan. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 289 jiwa terdampak, 8 unit rumah rusak berat, 5 unit rumah rusak sedang, 57 unit rumah rusak ringan, 8 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas ibadah, 1 unit kantor pemerintahan, 2 unit fasilitas umum, 2 unit kios, 810 m2 TPT, 8 unit jembatan, 238 m jalan, 1071 m2 sawah/kebun/lahan, 11 unit peternakan, 0,28 Ha kolam, dan 1 unit konstruksi irigasi terdampak.

Sabtu, 25 Desember 2021, BPBD Kabupaten Garut menerima laporan dari Camat Talegong mengenai kejadian banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa titik di Desa Mekarmulya, Desa Mekarwangi, dan Desa Selaawi Kecamatan Talegong. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah di Kecamatan Talegong adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di wilayah tersebut.

Bencana ini berdampak pada 189 warga yang akhirnya mengungsi, 8 unit rumah rusak, 1 unit fasilitas rusak, 1 unit fasilitas kesehatan rusak, 6 unit fasilitas umum, 4 unit jembatan, 1 unit kantor pemerintahan, serta sejumlah pertanian dan peternakan terdampak. Dalam menghadapi dampak ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan upaya[1]upaya penanganan darurat serta aktivasi sistem komando penanganan darurat bencana

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2021

PENUTUP

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs Terkait

Hallo, ada yang bisa kami bantu?