Gempa Bumi Magnitudo 5.6 Kabupaten Garut

Posted on October 20, 2023October 20, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on Gempa Bumi Magnitudo 5.6 Kabupaten Garut
Sumber : BMKG

Gempa Bumi Tektonik M5.6 di Samudera Hindia Selatan Jawa Barat, Tidak Berpotensi Tsunami.
Pada Hari Kamis, 19 Oktober 2023, pukul 21.08.24 WIB, wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa Barat diguncang oleh gempa bumi tektonik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan analisis mendalam terkait peristiwa ini dan memberikan informasi penting terkait gempa tersebut.

Detail Gempabumi
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki magnitudo sebesar M5.4. Episenter gempa berada pada koordinat 8.11° LS dan 107.27° BT, atau tepatnya terletak di laut, pada jarak 121 kilometer Barat Daya Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gempa ini terjadi pada kedalaman sekitar 57 kilometer.

Jenis dan Mekanisme Gempa Bumi
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini diklasifikasikan sebagai gempa bumi dangkal. Hal ini terjadi akibat aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia yang tenggelam di bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Dampak Gempa Bumi
Gempa ini memberikan dampak yang dirasakan di beberapa wilayah, termasuk Garut, Pangandaran, Cianjur, Cilacap, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dan Cikelet. Skala intensitas getaran di wilayah ini mencapai level III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan truk berlalu). Selain itu, daerah seperti Lembang, Bandung, Parompong, Bogor, dan Cireunghas merasakan getaran dengan skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). Meskipun gempa ini memiliki dampak terasa, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI.

Gempa Susulan
Hingga pukul 21.40 WIB, BMKG terus memantau situasi, dan hingga saat ini belum ada laporan aktivitas gempa susulan (aftershock).

Rekomendasi
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, penting untuk menghindari bangunan yang mungkin retak atau rusak akibat gempa. Pastikan bahwa bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa dan tidak mengalami kerusakan yang dapat membahayakan stabilitas bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah. Peristiwa gempa bumi adalah hal yang wajar di wilayah seismis seperti Indonesia. Dengan menjaga kewaspadaan dan patuh pada rekomendasi BMKG, kita dapat mengurangi risiko dan memastikan keselamatan bersama. Kami akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi yang diperlukan kepada masyarakat.
Sumber : BMKG

Pasca Gempa Tektonik di Kabupaten Garut Tidak Ada Kerusakan Dilaporkan

Kekuatan gempa ini secara alamiah memicu kekhawatiran di antara warga sekitar, mengingat signifikansinya. Namun, berita baik datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang telah melakukan pemantauan seismik menyeluruh. Hasil pemantauan awal dan laporan lapangan dari 42 Kecamatan sementara menginformasikan tidak ada kerusakan yang dilaporkan pasca kejadian Gempa Bumi yang terjadi tadi malam.

Informasi ini memberikan kelegaan kepada masyarakat, terutama di 42 kecamatan Kabupaten Garut yang berada di sekitar episenter gempa. Meskipun gempa ini cukup kuat, wilayah ini tampaknya berhasil menghindari kerusakan signifikan, dan tidak ada laporan mengenai dampak negatif yang terkait dengan peristiwa ini.

Meski demikian, pihak berwenang dan BMKG terus berkoordinasi untuk memastikan situasi tetap terkendali. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan menjaga kewaspadaan sesuai dengan protokol yang telah ditetapkan dalam kasus gempa bumi. Ini termasuk memeriksa keadaan bangunan rumah dan infrastruktur sekitar mereka. Jika ada kerusakan yang terlihat atau dirasakan, diharapkan warga segera melaporkannya kepada pihak berwenang setempat.

Kondisi darurat memerlukan persiapan, dan sangat disarankan untuk selalu memiliki tas darurat yang berisi air minum, makanan, obat-obatan penting, pakaian, senter, dan peralatan lainnya yang mungkin diperlukan dalam situasi yang tidak terduga.

Meskipun tidak ada laporan dampak kerusakan hingga saat ini, penting bagi semua orang untuk tetap tenang dan berkolaborasi dalam upaya menjaga keselamatan bersama. BMKG akan terus memantau situasi dan memberikan pembaruan jika diperlukan.

Kajian Bencana Kekeringan Tahun 2023

Posted on September 10, 2023September 10, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on Kajian Bencana Kekeringan Tahun 2023

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Garut

Kajian Bencana Kekeringan Tahun 2023 di Kabupaten Garut

Kabupaten Garut merupakan salah satu dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang mempunyai tingkat potensi rawan bencana yang tinggi. Tercatat Kabupaten Garut menempati urutan 96 sebagai kabupaten dengan tingkat kerawanan bencana kelas risiko tinggi untuk Kabupaten/Kota se-Indonesia dan urutan 4 untuk Kabupaten/Kota se-Jawa Barat pada Buku Indeks Risiko Bencana 2022 yang diterbitkan oleh BNPB.

Secara geografis Kabupaten Garut terletak pada koordinat 6°56’49” – 7°45’00” Lintang Selatan dan 107°25’8” – 108°7’30” Bujur Timur. Dikarenakan posisinya yang strategis, Kabupaten Garut menjadi daerah penyangga bagi pengembangan wilayah Jawa Barat. Selain itu, Kabupaten Garut juga mempunyai kedudukan yang strategis yang dilalui oleh Jalan Nasional untuk masyarakat yang ingin melintasi menuju Jawa Timur ataupun Jakarta hussar bagi pemudik dan wisatawan.

Dengan melihat kondisi Kabupaten Garut yang memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana, baik alam, non-alam, maupun sosial yang mengancam Kabupaten Garut dibutuhkan usaha keras untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan lingkungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, dan mencakup setiap segi kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun pendidikan.

Salah satu kejadian bencana yang berpotensi terjadi di Kabupaten Garut adalah kekeringan. Berdasarkan kejadian pada tahun sebelumnya, kekeringan ini terjadi karena musim kemarau yang panjang sehingga sumber mata air dan muka air tanah menurun karena tidak ada suplai air ke dalam tanah. Oleh karena itu, perlu disusun strategi penanganan bencana untuk mencegah dampak dari kekeringan.

  • Dasar Hukum

            Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana ini, dilandasi oleh dasar hukum sebagai berikut:

  1. Undang Undang Dasar Tahun 1945, pada Pembukaan Alinea ke-4;
  2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
  3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5597) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana;
  6. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;
  7. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut; dan
  8. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 3 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 12 Tahun 2022 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 3 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
  • Maksud dan Tujuan

Maksud dari kajian ini adalah untuk mengkaji potensi, dampak, kebutuhan, serta strategi penanganan bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Garut. Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan pengamanan ketupat lodaya ini adalah sebagai berikut:

  • Menghindari dampak yang mungkin terjadi akibat kekeringan; dan
  • Menanggulangi kejadian bencana kekeringan yang sudah terjadi.

POTENSI DAN KEJADIAN BENCANA KEKERINGAN DI WILAYAH KABUPATEN GARUT

  • Prakiraan Musim Kemarau Tahun 2023

Berdasarkan Buku Prakiraan Musim Kemarau 2023 Provinsi Jawa Barat terbitan Stasiun Klimatologi Jawa Barat BMKG, awal Musim Kemarau 2023 di Jawa Barat diperkirakan berkisar antara bulan Maret hingga Juli 2023. Wilayah Kabupaten Garut sendiri diperkirakan akan mulai memasuki Musim Kemarau pada bulan Mei-Juni dan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Awal Musim Kemarau Dasarian I-III Mei 2023 Beberapa wilayah yang diperkirakan memasuki Musim Kemarau pada Dasarian I-III Mei 2023 adalah sebagian kecil Garut bagian barat daya, Garut bagian tengah, timur, dan barat laut;
  2. Awal Musim Kemarau Dasarian I-III Juni Melingkupi wilayah Garut bagian barat daya dan sebagian kecil Garut bagian selatan.
Peta prakiraan awal musim kemarau Jawa Barat Tahun 2023, Sumber: BMKG, 2023

Puncak musim kemarau di Kabupaten Garut diperkirakan terjadi pada bulan Agustus untuk sebagian besar wilayah Kabupaten Garut bagian tengah dan selatan, serta pada bulan Juli untuk sebagian wilayah Kabupaten Garut bagian utara.

Peta prakiraan puncak musim kemarau Jawa Barat Sumber: BMKG, 2023

Potensi Dampak Bencana Kekeringan

Dalam rangka persiapan menghadapi bencana kekeringan tahun 2023 di Kabupaten Garut, BPBD Kabupaten Garut telah melakukan upaya-upaya persiapan yang diperlukan, salah satunya melakukan penghimpunan data potensi dampak bencana kekeringan yang diperoleh dari pengumpulan data pada  tahun sebelumnya.

Peta bahaya dan risiko kekeringan Kabupaten Garut Sumber: BNPB, 2022
Peta bahaya dan risiko kekeringan Kabupaten Garut Sumber: BNPB, 2022

Berdasarkan Inarisk yang dikeluarkan olen BNPB, seluruh wilayah Kabupaten Garut termasuk ke dalam indeks bahaya kekeringan dengan kategori tinggi dan indeks risiko kekeringan dengan kategori sedang sampai dengan tinggi.

Data Potensi Dampak Bencana Kekeringan Tahun 2021

Berdasarkan rekapitulasi jumlah desa terdampak, Kecamatan Cilawu berada diperingkat pertama dengan jumlah desa terdampak sebanyak 18 desa, diikuti oleh Kecamatan Cisurupan sebanyak 16 desa, lalu Kecamatan Balubur Limbangan dan Kadungora sebanyak 14 desa. Adapun untuk rekapitulasi jumlah jiwa terdampak, Kecamatan Balubur Limbangan melaporkan jumlah jiwa terbanyak sebanyak 58.415 jiwa diikuti oleh Kecamatan Banyuresmi sebanyak 44.383 jiwa, dan Kecamatan Cilawu sebanyak 43.794 jiwa.

Rekapitulasi perkiraan jumlah kebutuhan air (liter per hari) menunjukkan Kecamatan Balubur Limbangan menempati urutan teratas dengan jumlah kebutuhan air sebanyak 4.673.200 Liter/Hari, diikuti oleh Kecamatan Banyuresmi sebesar 3.550.640 Liter/Hari, lalu Kecamatan Cilawu sebesar 3.503.520 Liter/Hari.

Rekapitulasi Potensi Jumlah Desa Terdampak Kekeringan

Tahun 2021

No Data Found

Rekapitulasi potensi jumlah jiwa terdampak kekeringan Sumber: BPBD Kabupaten Garut, 2021
Rekapitulasi perkiraan jumlah kebutuhan air (Liter per Hari) Sumber: BPBD Kabupaten Garut, 2021

Selain bencana kekeringan air bersih, sebanyak 5 kecamatan melaporkan data potensi dampak bencana kekeringan lahan pertanian dan perkebunan, yaitu Kecamatan Pakenjeng, Bungbulang, Wanaraja, Karangtengah, dan Pameungpeuk. Perlu diingat bahwa data di dalam laporan ini berasal dari laporan masing-masing kecamatan. Perlu diperhatikan juga bahwa satuan untuk jumlah kebutuhan air adalah Liter per Hari. Perhitungan jumlah kebutuhan air, diperoleh dengan mengkalikan jumlah jiwa terdampak dengan kebutuhan air rata-rata perorangan sesuai SNI 6728.1:2015, Penyusunan neraca spasial sumber daya alam.

Rekapitulasi Data Potensi Dampak Bencana Kekeringan Lahan

Tahun 2021

No Data Found

Data potensi dampak bencana kekeringan lahan tahun 2021 Sumber: BPBD Kabupaten Garut, 2021

Data Potensi Dampak Bencana Kekeringan Tahun 2023

Musim kemarau panjang terjadi pula di tahun 2023, sehingga untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan, dilakukan pendataan terhadap potensi dampak kekeringan seperti pada tabel

Data Potensi Dampak Bencana Kekeringan Tahun 2023, Sumber: BPBD Kabupaten Garut, 2021

Kejadian Kekeringan Tahun Sebelumnya

Melihat catatan kejadian dan laporan kekeringan 3 tahun terakhir, tercatat BPBD Kabupaten Garut telah menerima laporan bencana kekeringan dari enam kecamatan yang terdampak kekeringan Musim Kemarau Tahun 2021 yang juga berpotensi untuk mengalami kekeringan di Musim Kemarau Tahun 2023, yaitu: 1. Kecamatan Cibatu (Kekeringan Air Bersih) 2. Kecamatan Sukawening (Kekeringan Air Bersih dan Kekeringan Lahan) 3. Kecamatan Sukaresmi (Kekeringan Air Bersih) 4. Kecamatan Leles (Kekeringan Air Bersih dan Kekeringan Lahan) 5. Kecamatan Karangpawitan (Kekeringan Lahan), dan 6. Kecamatan Cibiuk (Kekeringan Air Bersih dan Kekeringan Lahan) Dengan rincian lokasi dan jumlah penduduk terdampak Kekeringan Air Bersih dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Data Kejadian Bencana Kekeringan Tahun 2021, Sumber: Pusdalops PB, 2021

Kejadian Kekeringan Tahun 2023

Berdasarkan laporan dari kecamatan, telah terjadi kekeringan di beberapa wilayah, diantaranya sebagai berikut:

  1. Laporan Desa Cintanagara Kecamatan Cigedug Nomor 690/37-Ds/I/2023 tanggal 26 Juni 2023 perihal Laporan Bencana Kekeringan dan Permohonan Bantuan Air Bersih;
  2. Laporan Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut Nomor 690/005-Kec tanggal 1 Agustus 2023, perihal Laporan Permohonan Air Bersih;
  3. Laporan Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut Nomor BC.02.01/472-Kec/2023 tanggal 18 Agustus 2023 perihal Laporan Rekapitulasi Kekeringan;
  4. Laporan Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut Nomor 365/377-Kec/2023 tanggal 14 Agustus 2023 perihal Laporan Ancaman Kekeringan;
  5. Laporan Kecamatan Peundeuy Kabupaten Garut Nomot 145/40-Kec tanggal 16 Agustus 2023 perihal Laporan Kekeringan;
  6. Laporan Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut nomor 300.3.3.2/473/Trantib/2023 tanggal 14 Agustus 2023 perihal Laporan Bencana Kekeringan;
  7. Laporan Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut nomor 300.2.3/185-Kec tanggal 21 Agustus 2023;
  8. Laporan Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut nomor BC/337-Kec/2023 tanggal 6 Juli 2023 perihal Bencana Kekeringan;
  9. Laporan Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut nomor 300.2.1.1/207-Kec/2023 tanggal 18 Agustus 2023 perihal Bantuan Suplai Air.

STRATEGI PENGANGANAN

Penetapan Status Siaga Darurat

Penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan ditetapkan melalui Keputusan Bupati Garut Nomor 100.3.3.2/KEP.559-BPBD/2023 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan. Sebelumnya, Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang Status Siaga Darurat Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Daerah Provinsi Jawa Barat pun telah diputuskan dengan nomor 360/Kep.405-BPBD/2023.

PENETAPAN STATUS TANGGAP DARURAT BENCANA KEKERINGAN DI WILAYAH KABUPATEN GARUT

PENETAPAN POS KOMANDO PENANGANAN DARURAT BENCANA KEKERINGAN DI WILAYH KABUPATEN GARUT

Penetapan organisasi posko siaga darurat bencana kekeringan dapat dilakukan melalui aktivasi sistem komandi penanganan darurat bencana kekeringan.Kenaggotaan pos komando dapat ditetapkan melalui Surat Keputusan Pos Komando Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan.

Optimalisasi TRC dalam Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data untuk pengkajian cepat pada saat siaga darurat diperlukan Informasi sebagai berikut:

  1. Potensi ancaman bencana terkini berdasarkan sistem peringatan dini yang diberlakukan;
  2. Kondisi wilayah yang terancam;
  3. Perkiraan penduduk yang terancam, dengan berdasarkan wilayah dan demografi;
  4. Penduduk yang mengungsi/dikarantina (apabila ada), dengan berdasarkan titik lokasi pengungsian/wilayah karantina dan demografi;
  5. Status tingkat pendudukan dan sosial penduduk terancam;
  6. Fasilitas kesehatan dan kesehatan masyarakat di wilayah terancam;
  7. Ketersediaan sarana yang dapat dimanfaatkan (sarana angkutan, sarana penerangan/generator set);
  8. Tindakan awal yang dilakukan oleh masyarakat, relawan, Petugas lokal dan organisasi nin pemerintah di wilayah terancam;
  9. Ketersediaan peta jalur evakuasi;dan
  10. Akses menuju lokasi wilayah yang terancam.

          Adapun pengumpulan data untuk pengkajian cepat pada saat tanggap darurat diperlukan Informasi sebagai berikut:

  1. Kronologis kejadian bencana;
  2. Potensi ancaman bencana ikutan dan susulan;
  3. Wilayah yang terdampak;
  4. Penduduk yang terdampak, dengan berdasarkan wilayah terdampak dan demografi;
  5. Korban, dengan berdasarkan angka kematian, luka, sakit menurus jenis penyakit akibat bencana, belum ditemukan dan hilang, serta penduduk yang terancam tetapi tidak mengungsi;
  6. Penduduk yang mengungsi/dikarantina, dengan berdasarkan titik lokasi pengungsian/wilayah karantina dan demografi;
  7. Kerusakan, yang meliputi: rumah tidak layak huni akibat bencana, prasarana fisik, dan lain-lain;
  8. Status tingkat Pendidikan dan sosial penduduk terdampak;
  9. Ketersediaan sarana yang dapat dimanfaatkan;
  10. Ketersediaan peta jalur evakuasi;
  11. Akses menuju lokasi wilayah terdampak dan tempat pengungsian;
  12. Tindakan awal yang dilakukan oleh masyarakat, relawan, petugas lokal, dan organisasi non pemerintah di wilayah terdampak; dan
  13. Kebutuhan mendesak untuk penanganan darurat bencana.

Penyusunan Rencana Detail (Kontinjensi)

Penyusunan rencana kontinjensi dilakukan untuk mengidentifikasi dan menyusun rencana yang didasarkan pada suatu keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Perencanaan kontinjensi merupakan alat manajemen yang digunakan untuk menganalisa dampak potensi krisis, agar dapat mengatur langkah lebih awal yang tepat untuk menghadapi secara tepat waktu, efektif dan sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak. Rencana kontinjensi terdiri dari penilaian risiko, penentuan kejadian dan skenario kejadian bencana; pengembangan risiko dampak; penetapan tujuan dan strategi tanggap darurat; perencanaan sektoral; serta pemantauan dan tindak lanjut.

Pendistribusian Air Bersih

Pendistribusian air bersih dilakukan untuk menanggulangi secara langsung warga yang terdampak kekeringan. Hingga 13 Agustus 2023 pendistribusian telah dilakukan oleh Dinas Sosial, Polres, PMI, dan masyarakat dengan total terdistribusi 165 juta liter di Desa Cintanagara Kecamatan Cigedug. Untuk mengefisiensi kegiatan distribusi air bersih, perlu dilakukan hal-hal berikut:

  1. Pendataan terhadap warga terdampak dan kebutuhan air bersih;
  2. Inventarisir sumber air bersih yang dapat didistribusikan;
  3. Inventarisir ketersediaan sarana dan prasarana untuk pendistribusian air bersih;
  4. Membuat rencana operasi pendistribusian; dan
  5. Melakukan monitoring dan evaluasi terkait air bersih.
Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendistribusian Air Bersih

Pemanfaatan dan Perbaikan Sarana Prasarana

Pemanfaatan dan perbaikan sarana dan prasarana air bersih dilakukan untuk mengefisiensikan sumber air yang sudah ada. Pemanfaatan dapat dilakukan dengan cara:

  1. Pendataan sumber air yang dapat dimanfaatkan;
  2. Pembangunan bak penampungan air;
  3. Bantuan pompa air pada sumber air yang dapat dimanfaatkan;
  4. Pengaliran air melalui pipanisasi; dan
  5. Perbaikan pada sarana dan prasarana yang rusak.

Pemetaan Sumber Mata Air dan Muka Air Tanah

Pemetaan sumber mata air dan muka air tanah dapat dilakukan sebagai alternatif untuk mendapatkan air bersih. Penemuan sumber mata air baru dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan di masa yang akan datang. Pemetaan sumber mata air pada tahap awal dapat dilakukan berdasarkan literatur dan studi hidrogeologi. Selanjutnya, pendekatan geolistrik dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Setelah sumber air baru ditemukan, dapat dilakukan pemboran sumur atau menurap sumber mata air untuk penampungan yang selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat.

Pembangunan SPAM

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebagai salah satu pemanfaatan sumber daya air dan pengelolaan sanitasi sebagai salah satu bentuk perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya air. Pembangunan SPAM dilakukan atas dasar Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masuarakat dengan menjamin Kebutuhan pokok air minum masyarakat yang memenuhi syarat kualitas, syarat kuantitas, dan syarat kontinuitas.

           Kemarau panjang menyebabkan ancaman terjadinya kekeringan di Kabupaten Garut sangat tinggi. Kejadian bencana kekeringan pun telah terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Garut. Hal ini mengakibatkan dampak yang cukup menganggu aktivitas kehidupan masyarakat. Hingga saat ini telah didapatkan data kebutuhan air bersih untuk masyarakat sebagai antisipasi apabila bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Garut meluas. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak yang mungkin terjadi akibat kekeringan dan menanggulangi kejadian bencana kekeringan yang sudah terjadi, Pemerintah Kabupaten Garut telah menetapkan strategi penanganan bencana kekeringan sehingga aktivitas kehidupan dan penghidupan masyarakat tidak terganggu dan dapat berjalan secara normal, baik sektor ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sektor lainnya.

SITUS TERKAIT

BPBD KABUPATEN GARUT

Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2023

Posted on April 26, 2023April 26, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2023

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Garut

Hari Kesiapsiagaan Bencana 2023

Hari Kesiapsiagaan Bencana 2023

Sampurasun #SahabatTangguh

Pemerintah Indonesia melalui BNPB mencanangkan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). HKB adalah hari yang diinisiasi oleh BNPB untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman akan risiko bencana,
menumbuhkan budaya sadar bencana serta melatih keterampilan cara-cara yang tepat untuk menyelamatkan diri.
.
HKB 2023 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan
kewaspadaan bencana seluruh lapisan masyarakat di masa pandemi Covid- 19 menuju Desa Tangguh Bencana. Dengan mengusung tema “Siap Untuk Selamat* dengan sub tema ‘Tingkatkan Ketangguhan Desa, Kurangi Risiko Bencana”.

#HKB2023
#SiapUntukSelamat
#DesaTangguhBencana

SITUS TERKAIT

BPBD KABUPATEN GARUT

PRESS RELEASE HASIL PEMANTAUAN KAWAH G. PAPANDAYAN

Posted on March 1, 2023October 31, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on PRESS RELEASE HASIL PEMANTAUAN KAWAH G. PAPANDAYAN

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Garut

PRESS RELEASE HASIL PEMANTAUAN KAWAH G. PAPANDAYAN

Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

Gunung Api Papandayan adalah gunung api stratovolcano dengan ketinggian 2665 mdpl dengan beberapa kawah diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk dengan menivestasi berupa solfatara, fumarola dan hembusan gas. Gunung api ini terletak sekitar 70 km ke sebelah tenggara Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Cisurupan-Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dalam catatan sejarah, Gunung Api Papandayan tercatat telah beberapa kali bererupsi di antaranya pada 12 Agustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002. Pada tanggal 22 Februari 2023, terlihat pada tangkapan kamera di area parkir Papandayan adanya sinar api pada area kawah baru dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengirim tim untuk melakukan pemeriksaan aktivitas tersebut.

Hasil pemeriksaan kawah Gunung api Papandayan adalah sebagai berikut :

Pemeriksaaan visual kawah dilakukan pada malam hari antara pukul 21.00 -23.00 WIB, dengan tujuan untuk mengidentifikasi munculnya titik api/sinar api yang terdeteksi oleh kamera yang terjadi pada malam hari tanggal 22 Februari 2023 malam.
Hasil pemeriksaan visual malam hari,tampak asap keluar dari lubang kawah baru bertekanan kuat, terdengar samar suara gemuruh, tercium bau gas sulfur cukup kuat. Tidak terlihat adanya titik api/sinar api di lubang Kawah Baru. Asap solfatara Kawah Baru teramati dapat mencapai setinggi 300 m dari titik keluarnya asap. Pemeriksaan dari dekat, suara gemuruh dapat terdengar lemah hingga kuat dari kompleks solfatara Kawah Mas dan Kawah Baru, dan tekanan emisi gas teramati sedang hingga kuat di kedua kompleks tersebut. Pada Kawah Manuk tidak terdengar suara gemuruh dan emisi gas bertekanan lemah. Air danau Kawah Baru teramati berwarna kehijauan.
Pengukuran suhu solfatara di Kawah baru dengan menggunakan kamera termal, pengukur suhu, serta thermo-gun memperlihatkan suhu yang bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh asap solfatara dan aliran udara di sekitar manivestasi solfatara yang tersebar pada area kawah yang dinamis. Suhu solfatara yang tersebar pada area Kawah Mas, Kawah Manuk, dan Kawah Baru terukur maksimum 123.8°C.
Pengukuran gas udara ambien disekitar area kawah menggunakan detektor multigas terdeteksi gas-gas vulkanik seperti SO2 dengan konsentrasi tinggi pada jarak 500 meter dari sumber manifestasi solfatara (Lampiran II).
Dari data kegempaan memperlihatkan adanya peningkatan gempa-gempa Vulkanik Dangkal pada kurun waktu Bulan Januari 2023, dan peningkatan Gempa Low Frequency yang berfluktuasi pada kurun waktu Januari 2023 hingga Februari 2023. Keberadaan gempa-gempa ini bisa memberikan indikasi adanya dinamika rekahan pada area sekitar kawah dan pergerakan aliran fluida ke permukaan (Lampiran III).
Warna sinar biru yang berasal dari manivestasi belerang di Kawah Baru dan sekitarnya disebabkan oleh titik didih belerang yang mencapai suhu 445°C dan kontak dengan udara sekitar yang mengakibatkan terlihatnya warna merah hingga biru tergantung kepada suhu titik lebur dan titik didih manivestasi belerang tersebut. Semakin tinggi suhu belerang yang mendekati titik didih, maka akan terlihat berwarna biru.
Kesimpulan

Fenomena spot panas atau titik api/sinar api yang terpantau pada kamera bisa disebabkan oleh adanya aliran fluida yang naik ke permukaan karena dinamika rekahan yang terjadi pada area kawah dan menyebabkan pemanasan di area kawah, serta menimbulkan reaksi dengan batuan terutama endapan belerang yang ada disekitar lubang kawah sehingga menimbulkan titik api/sinar api.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa aktivitas solfatara Kawah Manuk, Kawah Mas, dan Kawah Baru di dalam area Kawah Papandayan masih tergolong normal. Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya yang dilakukan oleh pengamat, maka tinggi asap, tekanan emisi, dan temperatur gas solfatara relatif sama dan tidak memperlihatkan peningkatan.

Konsentrasi gas SO2 dan H2S dapat terukur melebihi ambang normal di dalam area 500 meter dari Kawah Mas (ambang normal bagi kesehatan untuk SO2 = 5 ppm, H2S = 10 ppm). Oleh karena itu pengunjung/wisatawan perlu mewaspadai dampak buruk dari paparan gas belerang tersebut terhadap kesehatan. Dampak buruk gas SO2 dan H2S dapat menimbulkan iritasi pada mata, batuk, sesak napas, sakit kepala, mual, lemas, hingga dapat menimbulkan kematian.

Berdasarkan hasil evaluasi secara menyeluruh maka tingkat aktivitas Gunung Api Papandayan pada tanggal 1 Maret 2023 pukul 06.00 WIB masih pada Level I (Normal) dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini, sebagai berikut :

Masyarakat di sekitar G. Papandayan dan pengunjung, wisatawan, pendaki agar tidak memasuki radius 500 meter dari kawah-kawah aktif G. Papandayan dan tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Papandayan, serta ketika cuaca mendung dan hujan dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.
Masyarakat di sekitar G. Papandayan, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Papandayan agar mewaspadai terjadinya anomali hembusan gas vulkanik dan letusan freatik dan yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.
Masyarakat di sekitar G. Papandayan diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Papandayan, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Papandayan yang dikeluarkan oleh PVMBG dan BPBD setempat dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Masyarakat dapat memantau Informasi perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Api Papandayan dan gunung api lainnya di Indonesia melalui aplikasi Magma Indonesia atau pada website magma.esdm.go.id.
Tingkat aktivitas Gunungapi Papandayan dapat dievaluasi kembali jika terdapat perubahan aktivitas secara visual dan instrumental yang signifikan.

Sumber Data:
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Badan Geologi
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

SITUS TERKAIT

PRESS RELEASE HASIL PEMANTAUAN KAWAH GUNUNG PAPANDAYAN GARUT

Garut – 01 Maret 2023

Gunung Api Papandayan adalah gunung api stratovolcano dengan ketinggian 2665 mdpl dengan beberapa kawah diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk dengan menivestasi berupa solfatara, fumarola dan hembusan gas. Gunung api ini terletak sekitar 70 km ke sebelah tenggara Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Cisurupan-Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dalam catatan sejarah, Gunung Api Papandayan tercatat telah beberapa kali bererupsi di antaranya pada 12 Agustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002. Pada tanggal 22 Februari 2023, terlihat pada tangkapan kamera di area parkir Papandayan adanya sinar api pada area kawah baru dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengirim tim untuk melakukan pemeriksaan aktivitas tersebut.

Hasil pemeriksaan kawah Gunung api Papandayan adalah sebagai berikut :

Pemeriksaaan visual kawah dilakukan pada malam hari antara pukul 21.00 -23.00 WIB, dengan tujuan untuk mengidentifikasi munculnya titik api/sinar api yang terdeteksi oleh kamera yang terjadi pada malam hari tanggal 22 Februari 2023 malam.
Hasil pemeriksaan visual malam hari,tampak asap keluar dari lubang kawah baru bertekanan kuat, terdengar samar suara gemuruh, tercium bau gas sulfur cukup kuat. Tidak terlihat adanya titik api/sinar api di lubang Kawah Baru. Asap solfatara Kawah Baru teramati dapat mencapai setinggi 300 m dari titik keluarnya asap. Pemeriksaan dari dekat, suara gemuruh dapat terdengar lemah hingga kuat dari kompleks solfatara Kawah Mas dan Kawah Baru, dan tekanan emisi gas teramati sedang hingga kuat di kedua kompleks tersebut. Pada Kawah Manuk tidak terdengar suara gemuruh dan emisi gas bertekanan lemah. Air danau Kawah Baru teramati berwarna kehijauan.
Pengukuran suhu solfatara di Kawah baru dengan menggunakan kamera termal, pengukur suhu, serta thermo-gun memperlihatkan suhu yang bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh asap solfatara dan aliran udara di sekitar manivestasi solfatara yang tersebar pada area kawah yang dinamis. Suhu solfatara yang tersebar pada area Kawah Mas, Kawah Manuk, dan Kawah Baru terukur maksimum 123.8°C.
Pengukuran gas udara ambien disekitar area kawah menggunakan detektor multigas terdeteksi gas-gas vulkanik seperti SO2 dengan konsentrasi tinggi pada jarak 500 meter dari sumber manifestasi solfatara (Lampiran II).
Dari data kegempaan memperlihatkan adanya peningkatan gempa-gempa Vulkanik Dangkal pada kurun waktu Bulan Januari 2023, dan peningkatan Gempa Low Frequency yang berfluktuasi pada kurun waktu Januari 2023 hingga Februari 2023. Keberadaan gempa-gempa ini bisa memberikan indikasi adanya dinamika rekahan pada area sekitar kawah dan pergerakan aliran fluida ke permukaan (Lampiran III).
Warna sinar biru yang berasal dari manivestasi belerang di Kawah Baru dan sekitarnya disebabkan oleh titik didih belerang yang mencapai suhu 445°C dan kontak dengan udara sekitar yang mengakibatkan terlihatnya warna merah hingga biru tergantung kepada suhu titik lebur dan titik didih manivestasi belerang tersebut. Semakin tinggi suhu belerang yang mendekati titik didih, maka akan terlihat berwarna biru.
Kesimpulan

Fenomena spot panas atau titik api/sinar api yang terpantau pada kamera bisa disebabkan oleh adanya aliran fluida yang naik ke permukaan karena dinamika rekahan yang terjadi pada area kawah dan menyebabkan pemanasan di area kawah, serta menimbulkan reaksi dengan batuan terutama endapan belerang yang ada disekitar lubang kawah sehingga menimbulkan titik api/sinar api.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa aktivitas solfatara Kawah Manuk, Kawah Mas, dan Kawah Baru di dalam area Kawah Papandayan masih tergolong normal. Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya yang dilakukan oleh pengamat, maka tinggi asap, tekanan emisi, dan temperatur gas solfatara relatif sama dan tidak memperlihatkan peningkatan.

Konsentrasi gas SO2 dan H2S dapat terukur melebihi ambang normal di dalam area 500 meter dari Kawah Mas (ambang normal bagi kesehatan untuk SO2 = 5 ppm, H2S = 10 ppm). Oleh karena itu pengunjung/wisatawan perlu mewaspadai dampak buruk dari paparan gas belerang tersebut terhadap kesehatan. Dampak buruk gas SO2 dan H2S dapat menimbulkan iritasi pada mata, batuk, sesak napas, sakit kepala, mual, lemas, hingga dapat menimbulkan kematian.

Berdasarkan hasil evaluasi secara menyeluruh maka tingkat aktivitas Gunung Api Papandayan pada tanggal 1 Maret 2023 pukul 06.00 WIB masih pada Level I (Normal) dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini, sebagai berikut :

Masyarakat di sekitar G. Papandayan dan pengunjung, wisatawan, pendaki agar tidak memasuki radius 500 meter dari kawah-kawah aktif G. Papandayan dan tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Papandayan, serta ketika cuaca mendung dan hujan dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.
Masyarakat di sekitar G. Papandayan, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Papandayan agar mewaspadai terjadinya anomali hembusan gas vulkanik dan letusan freatik dan yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.
Masyarakat di sekitar G. Papandayan diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Papandayan, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Papandayan yang dikeluarkan oleh PVMBG dan BPBD setempat dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Masyarakat dapat memantau Informasi perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Api Papandayan dan gunung api lainnya di Indonesia melalui aplikasi Magma Indonesia atau pada website magma.esdm.go.id.
Tingkat aktivitas Gunungapi Papandayan dapat dievaluasi kembali jika terdapat perubahan aktivitas secara visual dan instrumental yang signifikan.

Sumber Data:
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Badan Geologi
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

BPBD KABUPATEN GARUT

Kaleidoskop Bencana Kabupaten Garut Tahun 2020

Posted on February 27, 2023September 17, 2023Categories UncategorizedTags   Leave a comment on Kaleidoskop Bencana Kabupaten Garut Tahun 2020

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Garut

Kaleidoskop Bencana Tahun 2020

REKAP

Rekap Frekuensi Bencana di Kabupaten Garut di Tahun 2020

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Terancam Rusak

0 Unit

Kantor Pemerintahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 unit

Fasilitas Kesehatan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Umum

0 Unit

Kios/ Gedung/ Pabrik

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Jembatan

0 Unit

Irigasi

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

Frekwensi Kejadian Bencana Per Kecamatan

No Data Found

Rekap Frekuensi Bencana

Kabupaten Garut Tahun 2020

Loading..........

The Data is Not Available

Frekwensi Kejadian bencana

Tahun 2020

No Data Found

Frekuensi Kejadian Bencana Tiap Bulan

Bulan Oktober  hingga April (Musim Penghujan) merupakan bulan dengan frekuensi kejadian bencana yang relatif tinggi dibandingkan dengan bulan lain dengan dominasi bencana geo-hidro-meterorologi

Frekuensi Kejadian Bencana Perbulan

Tahun 2020

No Data Found

Frekwensi Kejadian Bencana Per Kecamatan

Tahun 2020

No Data Found

Frekwensi Kejadian Bencana Tanah Longsor

Per Kecamatan

No Data Found

Frekuensi Kejadian Bencana Longsor per Desa

Yang Lebih dari sama Dengan Dua Kali Kejadian

No Data Found

Rekap Kejadian Bencana Banjir

Per Kecamatan

No Data Found

Frekuensi Kejadian Bencana Banjir per Desa

Yang Lebih dari sama Dengan Dua Kali Kejadian

No Data Found

Frekwensi Kejadian Bencana Cuaca Ekstrim

Per Kecamatan

No Data Found

Frekwensi Kejadian Bencana Cuaca Ekstrim

Per Desa

No Data Found

Rekap Dampak Kejadian Bencana menurut Korban Jiwa

Rekap Dampak Kejadian Bencana menurut Kerusakan Bangunan dan Sarana Lain

SITUS TERKAIT

KABUPATEN GARUT DILANDA BENCANA HIDROMETEOROLOGI

Posted on February 19, 2023February 20, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on KABUPATEN GARUT DILANDA BENCANA HIDROMETEOROLOGI
Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

KABUPATEN GARUT DILANDA BENCANA HIDROMETEOROLOGI

Kabupaten Garut dilanda Bencana hidrometeorologi,
bencana hidrometeorologi ini merupakan sebuah fenomena bencana alam atau proses destruktif yang tidak hanya dapat terjadi di atmosfer (meteorologi), akan tetapi dapat terjadi juga di air (hidrologi) dan di lautan (oseanografi) yang mampu menimbulkan kerusakan.

Sabtu, 18 Februari 2023 Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Garut menerima 2 laporan kejadian bencana hidrometeorologi, pohon tumbang Kecamatan Garut Kota dan angin puting beliung di Kecamatan Banyuresmi. Bencana Hidrometeorologi (Pohon Tumbang) yang terjadi di Jln Veteran Kelurahan Pakuwon Kecamatan Garut Kota terjadi pada pukul 12.30 WIB, kejadian tersebut dilaporkan berdampak kerusakan pada beberapa kendaraan yang sedang terparkir tertimpa pohon tumbang. Sementara kejadian Bencana Hidrometeorologi (Angin Puting Beliung) yang terjadi di Desa Dangdeur dan Desa Binakarya Kecamatan Banyuresmi terjadi pada pukul 13.45 WIB, 14 Rumah (17 KK, 85 Jiwa), dan 1 unit Sarana Pendidikan mengalami dampak kerusakan.

Sementara kejadian Bencana Hidrometeorologi (Angin Puting Beliung) yang terjadi di Desa Dangdeur dan Desa Binakarya Kecamatan Banyuresmi terjadi pada pukul 13.45 WIB, 14 Rumah (17 KK, 85 Jiwa), dan 1 unit Sarana Pendidikan mengalami dampak kerusakan.

Berdasarkan analisa kejadian, kronologis bencana hidrometeorologi tersebut bermula dari hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut melakukan Koordinasi dengan unsur kewilayahan beserta dengan Dinas Teknis, bersama-sama melakukan Langkah-langkah assessment dan tindak lanjut berkaitan dengan percepatan penanganan kejadian tersebut.

SITUS TERKAIT

KABUPATEN GARUT DILANDA BENCANA HIDROMETEOROLOGI

Infolaras
Infolaras
Infolaras
Infolaras
Previous slide
Next slide

Garut dilanda Bencana hidrometeorologi – bencana hidrometeorologi ini merupakan sebuah fenomena bencana alam atau proses destruktif yang tidak hanya dapat terjadi di atmosfer (meteorologi), akan tetapi dapat terjadi juga di air (hidrologi) dan di lautan (oseanografi) yang mampu menimbulkan kerusakan.

Sabtu 18 Februari 2023, Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Garut menerima 2 laporan kejadian bencana hidrometeorologi, pohon tumbang Kecamatan Garut Kota dan angin puting beliung di Kecamatan Banyuresmi. Bencana Hidrometeorologi (Pohon Tumbang) yang terjadi di Jln Veteran Kelurahan Pakuwon Kecamatan Garut Kota terjadi pada pukul 12.30 WIB, kejadian tersebut dilaporkan berdampak kerusakan pada beberapa kendaraan yang sedang terparkir tertimpa pohon tumbang. Sementara kejadian Bencana Hidrometeorologi (Angin Puting Beliung) yang terjadi di Desa Dangdeur dan Desa Binakarya Kecamatan Banyuresmi terjadi pada pukul 13.45 WIB, 14 Rumah (17 KK, 85 Jiwa), dan 1 unit Sarana Pendidikan mengalami dampak kerusakan.

Infolaras
Infolaras
Infolaras
Infolaras
Previous slide
Next slide

Sementara kejadian Bencana Hidrometeorologi (Angin Puting Beliung) yang terjadi di Desa Dangdeur dan Desa Binakarya Kecamatan Banyuresmi terjadi pada pukul 13.45 WIB, 14 Rumah (17 KK, 85 Jiwa), dan 1 unit Sarana Pendidikan mengalami dampak kerusakan.

Berdasarkan analisa kejadian, kronologis bencana hidrometeorologi tersebut bermula dari hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang.

BPBD Kabupaten Garut melakukan Koordinasi dengan unsur kewilayahan beserta dengan Dinas Teknis, bersama-sama melakukan Langkah-langkah assessment dan tindak lanjut berkaitan dengan percepatan penanganan kejadian tersebut.

Kaleidoskop Kejadian Bencana Tahun 2022

Posted on February 9, 2023March 5, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on Kaleidoskop Kejadian Bencana Tahun 2022

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Garut

Kaleidoskop Bencana Tahun 2022

Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat yang diberikan sehingga dapat menyelesaikan Kaleidoskop Kejadian Bencana di Wilayah Kabupaten Garut pada Tahun 2022 Tuajuan dari pembuatan kaleidoskop ini adalah untuk memberikan informasi data kejadian bencana yang telah terjadi, dampak dan kerusakan, serta upaya penanganan yang telah dilakukan. Semoga laporan ini dapat menjadi bahan evaluasi dan tolak ukur dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana terutama dalam hal menurunkan risiko bencana dan menjadi bahan perbaikan untuk masa yang akan datang. kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Drs. Satriabudi, M.Si. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut

Pendahuluan

Tahun 2022 dibuka dengan musim penghujan yang disertai dengan angin kencang. Oleh karena itu, pada bulan Januari hingga awal bulan Mei kejadian bencana didominasi oleh bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Selanjutnya, musim kemarau terjadi pada pertengahan tahun sekitar akhir bulan Mei hingga pertengahan awal bulan Juli. Musim penghujan kembali terjadi pada pertengahan bulan Juli hingga akhir tahun dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga pada pertengahan bulan Juli mengakibatkan bencana di 14 kecamatan dengan dampak yang tinggi. Pada bulan November hingga bulan Desember aktivitas Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia relatif lebih intens dibandingkan dengan sebelumnya sehingga guncangan gempa dapat dirasakan dan menyebabkan beberapa kerusakan.

Frekuensi kejadian bencana paling tinggi terdapat di Kecamatan Bayogbong dengan jumlah 40 kejadian, Kecamatan Cisompet dengan jumlah 34 kejadian, Kecamatan Tarogong Kidul dengan jumlah 32 kejadian, dan Kecamatan Cilawu dengan jumlah 32 kejadian.

Kejadian bencana pada tahun ini berdampak pada kehidupan dan penghidupan masyarakat yang terdiri dari 27.242 jiwa terdampak, 251 unit rumah rusak berat, 122 unit rumah rusak sedang, 379 unit rumah rusak ringan, dan 6.315 unit rumah terdampak, 62 unit fasilitas pendidikan, 69 unit fasilitas ibadah, 36 unit fasilitas umum, 4228 m TPT, 890 m jembatan, serta sarana pertanian dan peternakan lainnya. Upaya penanganan dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dan meminimalisir dampak kerugian. Aktivasi Sistem Komando Penanganan Darurat pun dilakukan sebanyak 9 kali.

Overview Kejadian Bencana Per Bulan

Januari

Hasil analisis cuarah hujan pada bulan Januari yang diterbitkan oleh BMKG pada Kabupaten Garut menunjukan intensitas hujan menengah. Hal ini mengakibatkan jenis bencana yang terjadi pada bulan ini adalah bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, tanh longsor, dan angin puting beliung. Kejadian bencana dengan frekwensi paling tinggi sepanjang bulan Januari terjadi di Kecamatan Selaawi, yaitu sebanyak 6 kali terjadi banjir.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terdampak

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Februari

Pada bulan ini terjadi peningkatan intensitas curah hujan dari bulan sebelumnya. Hal ini dikemukakan oleh BMKG dalam
Buletin Iklimnya. Namun, frekuensi kejadian bencana menurun. Kejadian bencana dengan frekuensi paling tinggi bulan ini
terjadi di Kecamatan Cisurupan dengan 1 kali kejadian tanah longsor dan 4 kali kejadian tanah longsor. Upaya-upaya yang
telah dilaksanakan dalam penanggulangan bencana meliputi penyerahan logistik kebutuhan dasar korban bencana hingga
penyelamatan dan evakuasi korban bencana.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Maret

Pada umumnya, curah hujan pada bulan Maret dengan bulan sebelumnya adalah sama namun, terdapat sedikit
peningkatan curah hujan. Akibat akumulasi air dalam tanah yang menjadi jenuh, frekuensi kejadian bencana pun
meningkat. Kecamatan dengan frekuensi kejadian bencana paling tinggi terdapat di Kecamatan Garut Kota dengan 1 kali
kejadian angin puting beliung, 2 kali kejadian banjir, dan 4 kali kejadian tanah longsor. Penetapan tanggap darurat
dilakukan pada bencana hidrometeorologi sebagai upaya penganan darurat bencana.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

April

Terjadi penurunan curah hujan dari bulan sebelumnya. Hal ini mempengaruhi frekuensi kejadian bencana di Kabupaten
Garut menjadi berkurang namun, tetap didominasi oleh kejadian bencana tanah longsor. Tingkat kejadian bencana paling
tinggi pada bulan ini adalah di Kecamatan Malangbong dan Kecamatan Cisompet dengan masing-masing 4 kali kejadian
tanah longsor. Kejadian bencana angin puting beliung yang terjadi pada bulan ini mengakibatkan dampak yang besar dan
cakupan wilayah yang relatif lebih besar dibandingkan dengan dua tahun terakhir. Dalam upaya percepatan penanganan
darurat bencana, ditetapkan status tanggap darurat.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Mei

Penurunan curah hujan masih terjadi pada bulan ini sehingga frekuensi kejadian bencana pun terjadi penurunan. Namun,
kejadian bencana masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi khususnya kejadian tanah longsor. Kecamatan dengan
frekuensi kejadian bencana paling tinggi adalah Kecamatan Karangpawitan dan Kecamatan Banyuresmi dengan masingmasing 2 kali kejadian bencana. Upaya penanganan yang dilakukan terdiri dari penanganan pohon tumbang dan
pembersihan material akibat bencana banjir dan tanah longsor.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Juni

Pada umumnya kondisi cuaca pada bulan ini masih sama dengan bulan sebelumnya. Maka dari itu, frekuensi kejadian
bencana pada bulan ini pun masih relatif sama dengan bulan sebelumnya. Kejadian masih didominasi oleh tanah longsor
namun dengan frekuensi yang lebih tinggi. Pada bulan ini Kecamatan dengan frekuensi kejadian bencana paling tinggi
adalah Kecamatan Cilawu, Malangbong, dan Karangpawitan dengan masing-masing 2 kejadian bencana.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Juli

Curah hujan kembali meningkat pada pertengahan bulan Juli dengan intensitas yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan
terjadinya banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah pada waktu yang bersamaan. Kejadian ini menjadi kejadian dengan
dampak paling tinggi pada tahun ini. Wilayah dengan frekuensi kejadian paling tinggi yaitu Kecamatan Tarogong Kidul
dengan 29 kali kejadian bencana dan Kecamatan Bayongbong dengan 27 kali kejadian bencana. Dengan banyaknya
dampak dan perlunya penanganan secara cepat maka ditetapkan status tanggap darurat dan aktivasi komando
penanganan darurat bencana untuk kejadian ini.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Agustus

Curah hujan rata-rata paling rendah pada tahun ini terjadi pada bulan Agustus ini. Sehingga jumlah kejadian bencana pada
bulan ini menurun. Sebanyak 3 kejadian banjir terjadi pada awal bulan ini. Kejadian bencana hanya terjadi di dua
kecamatan, yaitu Kecamatan Sukaresmi sebanyak 1 kejadian dan Kecamatan Cibalong sebanyak 2 Kejadian bencana. Upaya
penanganan pun dilakukan yang meliputi pengkajian kejadian bencana, penyelamatan dan evakuasi korban, hingga
pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 ha

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

September

Curah hujan meningkat dengan pesat pada bulan ini setelah sebelumnya curah hujan di Kabupaten Garut mengalami
penurunan. Kejadian bencana pun meningkat seiring meningkatnya curah hujan. Kejadian bencana didominasi oleh
bencana banjir bandang dan tanah longsor. Kejadian bencana banjir yang pernah terjadi pada bulan Juli tahun 2022 kini
terjadi lagi pada bulan September tahun 2022 ini lalu dilakukan upaya penanganan darurat bencana dengan penetapan
status tanggap darurat. Kecamatan Cisompet menjadi Kecamatan dengan kejadian bencana paling tinggi pada bulan ini.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 Ekor

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Oktober

Masih dengan curah hujan yang tinggi pada bulan ini, kejadian bencana pun masih didominasi oleh kejadian
hidrometeorologi seperti tanah longsor dan angin puting beliung. Wilayah dengan frekuensi bencana paling tinggi adalah
Kecamatan Cisompet dengan 4 kali kejadian bencana dan Malangbong dengan 4 kali kejadian bencana. Upaya-upaya yang
dilakukan untuk penanggulangan bencana meliputi kaji cepat, pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana,
pembersihan material banjir, dan lainnya.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 Ekor

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

November

Pada umumnya curah hujan masih tinggi pada bulan ini, kejadian bencana pun meningkat dari tahun sebelumnya.
Umumnya jenis kejadian merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh tingginya curah hujan. Selain itu, bulan ini
pun lempeng kembali aktif sehingga terjadi beberapa kali gempa bumi dan terjadi kerusakan pada 3 kecamatan. Wilayah
dengan frekuensi kejadian bencana ini adalah Kecamatan Bayongbong degan 5 kali kejadian bencana. Akibat adanya
kenaikan kejadian bencana dan perlunya kebutuhan penanganan secara cepat maka, ditetapkan status tanggap darurat
untuk penanganan darurat bencana hidrometeorologi.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 Unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 unit

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

Desember

Pada bulan ini masih dengan curah hujan yang tinggi dan aktivitas lempeng meningkat. Sehingga jenis kejadian adalah
bencana hidrometeorologi dan gempa bumi. Dampak yang ditimbulkan oleh getaran gempa bumi cukup tinggi dan
menyebar pada 16 kecamatan. Wilayah dengan frekuensi kejadian gempa bumi paling tinggi adalah Kecamatan Cisompet
dan wilayah dengan frekuensi kejadian tanah longsor paling tinggi adalah Kecamatan Pamulihan. Untuk penanganan
bencana yang terjadi dilakukan upaya-upaya berupa kaji cepat dan pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana.

Frekwensi dan Dampak Kejadian Bencana

No Data Found

No Data Found

0 Jiwa

Terdampak

0 Unit

Rumah Rusak Ringan

0 Unit

Fasilitas Umum

0

Sawah/ Kebun/ Lahan

0 Jiwa

Meninggal Dunia dan Hilang

0 Unit

Rumah Terendam

0 Meter

Tembok Penahan Tanah

0 Unit

Peternakan

0 Unit

Rumah Rusak Berat

0 Unit

Fasilitas Pendidikan

0 Unit

Jembatan

0 unit

Kolam

0 Unit

Rumah Rusak Sedang

0 Unit

Fasi;itas Peribadatan

0 Meter

Jalan

0 unit

Irigasi

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2022

SITUS TERKAIT

Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

KALEIDOSKOP KEJADIAN BENCANA TAHUN 2022

PENDAHULUAN

Tahun 2022 dibuka dengan musim penghujan yang disertai dengan angin kencang. Oleh karena itu, pada bulan Januari hingga awal bulan Mei kejadian bencana didominasi oleh bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Selanjutnya, musim kemarau terjadi pada pertengahan tahun sekitar akhir bulan Mei hingga pertengahan awal bulan Juli. Musim penghujan kembali terjadi pada pertengahan bulan Juli hingga akhir tahun dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga pada pertengahan bulan Juli mengakibatkan bencana di 14 kecamatan dengan dampak yang tinggi. Pada bulan November hingga bulan Desember aktivitas Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia relatif lebih intens dibandingkan dengan sebelumnya sehingga guncangan gempa dapat dirasakan dan menyebabkan beberapa kerusakan.

Frekuensi kejadian bencana paling tinggi terdapat di Kecamatan Bayogbong dengan jumlah 40 kejadian, Kecamatan Cisompet dengan jumlah 34 kejadian, Kecamatan Tarogong Kidul dengan jumlah 32 kejadian, dan Kecamatan Cilawu dengan jumlah 32 kejadian.

Kejadian bencana pada tahun ini berdampak pada kehidupan dan penghidupan masyarakat yang terdiri dari 27.242 jiwa terdampak, 251 unit rumah rusak berat, 122 unit rumah rusak sedang, 379 unit rumah rusak ringan, dan 6.315 unit rumah terdampak, 62 unit fasilitas pendidikan, 69 unit fasilitas ibadah, 36 unit fasilitas umum, 4228 m TPT, 890 m jembatan, serta sarana pertanian dan peternakan lainnya. Upaya penanganan dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dan meminimalisir dampak kerugian. Aktivasi Sistem Komando Penanganan Darurat pun dilakukan sebanyak 9 kali.

OVERVIEW KEJADIAN BENCANA PER BULAN

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2022

Situs Terkait

Kaleidoskop Kejadian Bencana Tahun 2021

Posted on February 8, 2023February 12, 2023Categories Uncategorized  Leave a comment on Kaleidoskop Kejadian Bencana Tahun 2021
Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)
Bagikan:

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN GARUT

OVERVIEW KEJADIAN BENCANA PER BULAN

Januari

Pada Januari 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 29 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 23 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 3 kejadian banjir, 2 kejadian cuaca ekstrim, dan 1 kejadian lainnya. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 693 jiwa terdampak, 7 unit rumah rusak, 3 unit rumah rusak ringan, 73 unit rumah terancam rusak, 1 unit fasilitas peribadatan, 1 unit fasilitas umum, 7 unit kios, 4 titik jembatan, 0,05 km jalan, dan 0,028 Ha. Hal ini terjadi karena curah hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi di wilayah Kabupaten Garut. Hal ini didukung oleh analisis curah hujan Januari 2021 yang dikeluarkan oleh BMKG, wilayah Kabupaten Garut memiliki curah hujan menengah hingga tinggi. Pada Sebagian wilayah Kabupaten Garut mengalami hujan lebat dan cuaca ekstrim pada bulan ini.

Bencana tanah longsor terjadi di Jalan Provinsi di Cijagir/Kp. Imut Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Kp. Salam Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Ciawitali Desa Girimukti, Jalan provinsi di Cigembong Desa Mekarsewu Kecamatan Cisewu pada pukul 16.00 WIB 09 Januari 2021 serta di Kp. Cibinong RT.02, RT.03 / RW.05 Desa Mekarmulya dan Kp. Pilar RT 07, RW 02 Desa Sukalaksana Kecamatan Talegong pada pukul 13.00 – 17.00 WIB 09 Januari 2021. Berdasarkan peta prakiraan potensi terjadinya Gerakan tanah provisi Jawa Barat bulan Desember 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana dan sekitarnya termasuk Zona potensi terjadinya Gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadinya Gerakan tanah. Arus lalin dan akses warga masyarakat dari Wilayah Cisewu ke arah Talegong, Pangalengan lumpuh total demikian juga arah sebaliknya. Kondsi ini diperparah dgn ambruknya jembatan sungai Citalegong pada jalur jalan provinsi di wilayah Kecamatan Talegong. Jumlah seluruh korban terdampak tanah longsor Desa Mekarmulya berjumlah 116 KK dengan jumlah jiwa 333 sedangkan desa Sukalaksana berjumlah 16 kk dengan jumlah jiwa 49.Tercatat sebanyak 67 KK 192 jiwa mengungsi di SDN 3 Mekarmulya dan 63 KK 170 Jiwa Mengungsi di kobong masjid RT 03,RW 04.Tidak ada korban jiwa meninggal dan hilang dalam kejadian ini

Februari

Di bulan Februari tahun 2021 terjadi bencana tanah longsor. Terdapat 194 kejadian an-nasr yang telah menyebabkan dampak Pak 330 jiwa dan mengakibatkan 629 jiwa mengungsi dan terdampak titik terdapat rumah rusak berjumlah total 132 unit rumah terdampak diantaranya 11 rusak berat 27 rusak sedang 59 rusak ringan dan diantaranya juga ada 35 terendam fasilitas pendidikan 2 unit fasilitas umum 5 unit Jembatan 4 titik ataupun unit Jalan 0,2 M2 sawah kebun part 2 m2.

Selama Februari, ada 3 kejadian bencana alam dari periode sejak tanggal 1 sampai dengan 28 diantaranya bencana tanah longsor 11 Kejadian diwilayah yang terdampak diantaranya meliputi Kecamatan Kadungora (1x Kejadian), Kecamatan Cilawu (1x Kejadian), Kecamatan Banjarwangi (3x Kejadian), Kecamatan Cisompet (1x Kejadian), dan Kecamatan Singajaya (1x Kejadian). Kejadian banjir meliputi wilayah Kecamatan Banjarwangi (1x Kejadian) dan Cuaca Ektrim di wilayah terdampak Kecamatan Cisompet (1x Kejadian). Dari 15 kejadian bencana tersebut, 90 diantaranya merupakan bencana hydrometeorology. Tanah Longsor menjadi kejadian bencana yang cukup banyak dibandingkan dengan kejadian banjir.

Berdasarkan keterangan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada Februari dan Maret wilayah Indonesia memasuki puncak musim penghujan. Sehingga, hujan dengan intensitas sedang sampai dengan tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.

Maret

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Maret menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. 30 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 13 kejadian banjir, 3 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Kejadian bencana tersebut menimpa 15 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Garut Kota dan Tarogong Kaler sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Sukawening, Pasirwangi, Tarogong Kidul, Wanaraja, Talegong, Sukaresmi, Pameungpeuk, Malangbong, Kadungora, Cisewu, Cibatu, Banyuresmi, dan Leles. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 428 jiwa terdampak, 2 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, 2 unit 2 rumah rusak ringan, 117 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas Pendidikan, 1 unit kios, 248 m TPT, 1 jembatan, dan 60 m jalan terdampak bencana.

Tanah longsor yang terjadi di Kampung Sintok RT 04, RW 02, Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. (Koordinat: o o 7 13’01.256” LS – 107 45’22.259” BT, Elevasi: 1510 mdpl) pada tanggal 23 Maret 2021 telah mengalami kejadian yang sama dalam skala relatif lebih kecil pada waktu-waktu sebelumya. Tebing longsoran memiliki dimensi lebar sekitar 30 meter dengan tinggi tebing longsoran mencapai sekitar 100 meter. Longsoran dipicu oleh beberapa faktor di antaranya: o o · Kondisi morfologi tebing yang memiliki kemiringan tinggi, hampir mendekati vertikal (70 -80 ). · Kondisi tanah di lokasi kejadian yang tersusun oleh tanah lapukan volkanik yang tidak terkonsolidasi sempurna. · Intensitas curah hujan tinggi dan durasi yang cukup panjang Dampak dari kejadian ini adalah satu unit (1 unit) rumah dalam kondisi rusak berat, tujuh unit (7 unit) rumah lainnya dalam kondisi terancam, satu KK (1 KK) terdampak, dan tujuh KK (7 KK) dalam kondisi terancam.

Upaya yang telah dilakukan oleh BPBD Kabupaten Garut adalah melakukan assessment ke lokasi kejadian, pemberian bantuan logistik, pendataan korban terdampak, pengambilan foto udara, dan berkoordinasi dengan pihak Kecamatan dan Dinas PUPR untuk upaya penanganan selanjutnya.

April

Bulan April adalah bulan dimana penurunan curah hujan dari bulan-bulan sebelumnya terjadi. Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah pada bulan April. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat bawah normal (BN). Namun, di beberapa wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat.

5 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini merupakan bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 2 kejadian tanah longsor, 1 kejadian banjir, dan 2 kejadian angina kencang. Kejadian bencana tersebut menimpa 5 kecamatan di Kabupaten Garut dengan masing-masing kecamatan mengalami 1 kejadian bencana diantaranya, Kecamatan Bayongbong 1 kejadian tanah longsor, Tarogong Kaler 1 kejadian angina kencang, Pasirwangi 1 kejadian angin kencang, Garut Kota 1 kejadian banjir, dan Cikajang 1 kejadian tanah longsor. Kejadian bencana ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 253 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak ringan, 54 unit rumah terendam, 1 unit fasilitas umum, 1 unit kios, 6 m jalan, dan 0,006 Ha terdampak bencana.

Kamis, 15 April 2021 pukul 18.00 WIB terjadi banjir di Kelurahan Kota Wetan Kabupaten Garut tepatnya di Kampung Sukaregang RT 03/04/05 RW 18. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota semenjak sore hingga malam hari, mengakibatkan terjadinya luapan air dari Selokan Cigulampeng di Kampung Sukaregang, Kota Wetan yang mulai terjadi pukul 18:00 WIB. Akibat luapan air ini, lima puluh empat (54) unit rumah di sekitaran area selokan terendam air setinggi 20 cm – 70 cm. Banjir di lokasi ini adalah banjir yang rutin terjadi beberapa tahun terakhir ketika musim hujan tiba, namun kejadian kali ini adalah kejadian yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banjir disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: intensitas hujan tinggi, lebar selokan yang sempit, pintu air yang macet sehingga memperlambat aliran air, terdapat kolam ikan yang meluap, dan posisi selokan lebih tinggi dibandingkan dengan pemukiman.

Mei

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada bulan mei 2021, adalah tanah longsor dengan 2 kejadian dan banjir dengan 1 kejadian dengan total kejadian 3 kejadian. Tercatat akibat kejadian tersebut 2 rumah terendam, 7 Jiwa terdampak, 0,002 jalan, 2 Ha Sawah/ Kebun dan 1 Unit Irigasi. Sejak awal 2021 hingga akhir Bulan Mei bencana Hidrometeorologi Tanah Longsor dan banjir masih mendominasi kejadian bencana yang terjadi di kabupaten Garut. Kecamatan Cilawu menjadi Kecamatan dengan kejadian tertinggi selama Bulan Mei, yaitu dengan 2 kejadian Bencana tanah longsornya.

Kecamatan Cilawu 2 kali dilanda Tanah longsor yaitu satu pada hari Senin, 17 Mei 2021 Pukul 05.00 WIB di Kampung Cigangsa Desa Sukamaju Kecamatan Cilawu kabupaten Garut. Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota dan sekitarnya pada sore sampai malam hari, mengakibatkan tanah pada tebing jalan jenuh air dan menjadi tidak stabil sehingga terjadinya tanah longsor pada tebing dan menutup bahu jalan sepanjang 20 M. Pada hari Senin, 24 Mei 2021 Pukul 19.00 WIB terjadi lagi bencana tanah longsor di kecamatan Cilawu, tepatnya di Blok Cinangka, Kampung padarek RT/RW 05/02. Intensitas hujan yang tinggi semenjak sore hari mengakibatkan terjadinya longsoran dengan dimensi lebar 30 m dan tinggi 20 m di tebing sisi sungai sub DAS Cinangka. Longsoran ini mengakibatkan terjadinya penyumbatan sungai dan mengakibatkan terjadinya luapan air sungai ke area persawahan warga yang berada di sebelahnya. Air luapan sungai yang masuk ke sawah mengakibatkan tanah di area persawahan jenuh oleh air memicu terjadinya longsoran di area persawahan. Akibat kejadian ini, seluas 2 ha area persawahan milik warga rusak akibat luapan air dan longsor.

Longsor di area persawahan juga mengakibatkan tiang-tiang saluran irigasi gantung ambruk. Adapun upaya yang telah dilakukan adalah gotong-royong untuk membersihkan material longsoran yang menyumbat sungai, serta perkuatan sementara dengan menggunakan karung yang diisi material. Perlu dilakukan upaya lanjutan berupa perkuatan tebing longsoran dengan menggunakan bronjong serta perbaikan dan perkuatan tiang-tiang saluran irigasi gantung yang ambruk akibat longsoran.

Juni

Pada Juni 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 9 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 5 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, 1 kejadian kegagalan konstruksi, dan 2 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 673 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak berat, 14 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 220 unit kios, 18 meter TPT, 0,015 km jalan, dan 5,029 Ha. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Mei hingga bulan Juni. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Juni..

Tanggal 20 Juni 2021 pukul 23.00 WIB terjadi bencana kebakaran Pasar Sementara Leles yang secara administratif terletak di Alun-alun Leles, Desa Leles Kecamatan Leles sedangkan, secara geografis terletak di – 7.108294916616318˚ LS dan 107.8987042677023˚ BT. Daerah kejadian bencana merupakan pasar yang terdiri dari beberapa kios dan kaki lima yang padat. Material bangunan kios dan kaki lima adalah material yang mudah terbakar. Selain itu, letak lokasi kejadian merupakan pemukiman padat dan kawasan kantor pemerintahan. Adapun faktor penyebab kejadian kebakaran diduga karena percikan api yang terus menyebar pada material bangunan kios dan isinya. Sejumlah 412 kios dan 60 lapak kaki lima mengalami rusak berat karena hangus terbakar.

Juli

Agustus

Pada Agustus 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 7 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 4 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, dan 1 kejadian kebakaran. Pada Sebagian wilayah di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 107 jiwa terdampak, 4 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit kios, 0,21 km kolam, 24357,57 Ha, dan 1 unit konstruksi irigasi. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Juli hingga bulan Agustus. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan kekeringan terjadi karena curah hujan pada bulan Juli hingga Agustus rendah meskipun di beberapa wilayah kadang terjadi hujan dengan instensitas tinggi.

Terjadinya kekeringan di wilayah di Kabupaten Garut terutama di wilayah Kecamatan Cibatu lalu disertai dengan kajian BPBD Garut mengenai kekeringan dengan hasil potensi kekeringan yang mungkin terjadi di Sebagian besar wilayah Kabupaten Garut mendorong dikeluarkannya surat keputusan tanggap darurat kekeringan pada bulan Agustus ini. Hal ini diantisipasi dengan mitigasi bencana kekeringan ke wilayah kejadian dan upaya penanganan darurat pada wilayah kejadian kekeringan.

September

Peningkatan curah hujan yang terjadi dari bulan Agustus ke bulan September tidak menjadikan adanya peningkatan kejadian bencana pada bulan September bahkan terjadi penurunan kejadian bencana. Pada September 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 5 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 3 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 21 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, dan 5 meter jalan terdampak.

Kecamatan Cilawu menjadi kecamaten dengan frekuensi kejadian paling tinggi yaitu 2 kali kejadian tanah longsor. Sedangkan, Kecamatan Talegong, Cibatu, dam Karangtengah mengalami masing-masing 1 kejadian bencana.

Oktober

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Oktober menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini.

23 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 7 kejadian banjir, dab 3 kejadian angin putting beliung. Kejadian bencana tersebut menimpa 12 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Tarogong Kidul sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Malangbong dengan 3 kejadian angina putting beliung dan 1 kejadian tanah longsor. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Cikelet, Cisompet, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang, Tarogong Kaler, Banjarwangi, Pameungpeuk, Cilawu, dan Samarang. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 290 jiwa terdampak, 14 unit rumah rusak sedang, 4 unit rumah rusak ringan, 36 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit fasilitas ibadah, 0,21 Ha kolam, 10100 m2 sawah/kebun/lahan, 76 m2 TPT, dan 56 m jalan terdampak bencana.

Frekuensi kejadian tanah longsor dan banjir meningkat dari bulan[1]bulan sebelumnya. Curah hujan semakin tinggi dan memicu terjadinya tanah longsor dan banjir yang cukup intens terjadi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah berakumulasi hingga menjadikan tanah semakin jenuh dengan air dan menjadikan tanah longsor. Begitupun dengan air permukaan dengan debit cukup tinggi memicu terjadinya banjir. Bulan ini menjadi awal dari kejadian-kejadian yang relatif berskala besar yang terjadi pada bulan setelahnya.

November

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan November ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem pada beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. Hal ini terbukti dengan pantauan secara visual dan laporan dari kecamatan – kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Garut yang menunjukan bahwa hujan terjadi hingga hampir setiap hari pada bulan ini.

Sejumlah 62 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 52 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir, 3 kejadian banjir bandang, 1 kejadian kebakaran, dan 4 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 23 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Balubur Limbangan sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 8 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Tarogong Kaler dengan 3 kejadian tanah longsor, 1 kejadian kebakaran, dan 1 kejadian lainnya lalu selanjutnya Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Cisompet, Kecamatan Cilawu, Kecamatan Pakenjeng, dan Kecamatan Pasirwangi yang masing-masing megalami kejadian sebanyak 4 kali kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Banyuresmi, Bayongbong, Caringin, Cibalong, Cikelet, Kadungora, Karangpawitan, Karangtengah, Malangbong, Pamulihan, Pangatikan, Peundeuy, Sukaresmi, Sukawening, Talegong, dan Tarogong Kidul.

Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Pada hari Sabtu, 6 November 2021 banjir bandang terjadi di Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus pada sekitar wilayah kejadian. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut memicu tanah pada lereng menjadi jenuh dan kritis sehingga akhirnya tanah longsor terjadi di beberapa titik dan membendung aliran air sungai. Tanah longsor inilah yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di wilayah tersebut. Kejadian ini mengakibatkan 1202 jiwa terdampak, 21 jiwa mengungsi, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, serta 1 unit jembatan rusak.

Setelah kejadian tersebut, banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa titik di Desa Cinta, Cintamanik, dan Caringin di Kecamatan Karangtengah serta Desa Sukawening, Mekarhurip, Mekarluyu, Sukamukti, dan Mekarwangi Kecamatan Sukawening. Berdasarkan pengkajian awal tersebut, kejadian banjir bandang tersebut terjadi pada hari Sabtu tanggal 27 November 2021 sekitar pukul 14.30 WIB. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang dan tanah longsor tersebut adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di hulu wilayah tersebut. Hal ini diperkuat oleh Peringatan Dini Cuaca Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat tanggal 27 November 2021 yang menyatakan bahwa pada tanggal 27 November 2021 pada pukul 13.20 WIB masih terjadi potensi Hujan Sedang-Lebat dan Angin Kencang di Kabupaten Garut yang meliputi Kecamatan Cibatu, Kersamanah, Malangbong, Sukawening, Karangtengah, dan Pangatikan. Kejadian bencana ini menimbulkan dampak berupa 6 unit rumah rusak berat, 12 unit rumah rusak sedang, 1 unit rumah rusak ringan, 79 unit rumah terendam, 2 unit fasilitas pendidikan, 1 unit sarana ibadah, 13 unit fasilitas umum, 3 unit jembatan, 32 Ha sawah/kebun, 3 unit peternakan, 505 m TPT, 300 m jalan, dan 5 unit irigasi terdampak bencana. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Desember

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Desember ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah hingga tinggi. Hal ini menunjukan penurunan intensitas dari bulan November namun, beberapa titik tetap mengalami curah hujan ekstrem beberapa kali.

Sejumlah 35 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 25 kejadian tanah longsor, 6 kejadian banjir, 3 angin putting beliung, dan 1 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 18 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Talegong sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 7 kejadian tanah longsor, 3 kejadian banjir, dan 1 kejadian putting beliung lalu disusul dengan Kecamatan Cisewu dengan 3 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian banjir lalu selanjutnya Kecamatan Singajaya dengan 2 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian lainnya. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Pamulihan, Kadungora, Pangatikan, Pakenjeng, Mekarmukti, Malangbong, Leles, Karangpawitan, Cilawu, Cikelet, Cibatu, Cibalong, Banyuresmi, Banjarwangi, dan Bl. Limbangan. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 289 jiwa terdampak, 8 unit rumah rusak berat, 5 unit rumah rusak sedang, 57 unit rumah rusak ringan, 8 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas ibadah, 1 unit kantor pemerintahan, 2 unit fasilitas umum, 2 unit kios, 810 m2 TPT, 8 unit jembatan, 238 m jalan, 1071 m2 sawah/kebun/lahan, 11 unit peternakan, 0,28 Ha kolam, dan 1 unit konstruksi irigasi terdampak.

Sabtu, 25 Desember 2021, BPBD Kabupaten Garut menerima laporan dari Camat Talegong mengenai kejadian banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa titik di Desa Mekarmulya, Desa Mekarwangi, dan Desa Selaawi Kecamatan Talegong. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah di Kecamatan Talegong adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di wilayah tersebut.

Bencana ini berdampak pada 189 warga yang akhirnya mengungsi, 8 unit rumah rusak, 1 unit fasilitas rusak, 1 unit fasilitas kesehatan rusak, 6 unit fasilitas umum, 4 unit jembatan, 1 unit kantor pemerintahan, serta sejumlah pertanian dan peternakan terdampak. Dalam menghadapi dampak ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan upaya[1]upaya penanganan darurat serta aktivasi sistem komando penanganan darurat bencana

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2021

PENUTUP

Situs Terkait
Hallo sahabat Tangguh! Selamat datang di Infolaras BPBD Kabupaten Garut, layanan Call center 24 jam 085220611117 (WhatsApp)

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN GARUT

OVERVIEW KEJADIAN BENCANA PER BULAN

Januari

Pada Januari 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 29 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 23 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 3 kejadian banjir, 2 kejadian cuaca ekstrim, dan 1 kejadian lainnya. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 693 jiwa terdampak, 7 unit rumah rusak, 3 unit rumah rusak ringan, 73 unit rumah terancam rusak, 1 unit fasilitas peribadatan, 1 unit fasilitas umum, 7 unit kios, 4 titik jembatan, 0,05 km jalan, dan 0,028 Ha. Hal ini terjadi karena curah hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi di wilayah Kabupaten Garut. Hal ini didukung oleh analisis curah hujan Januari 2021 yang dikeluarkan oleh BMKG, wilayah Kabupaten Garut memiliki curah hujan menengah hingga tinggi. Pada Sebagian wilayah Kabupaten Garut mengalami hujan lebat dan cuaca ekstrim pada bulan ini.

Bencana tanah longsor terjadi di Jalan Provinsi di Cijagir/Kp. Imut Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Kp. Salam Desa Nyalindung, Jalan Provinsi di Ciawitali Desa Girimukti, Jalan provinsi di Cigembong Desa Mekarsewu Kecamatan Cisewu pada pukul 16.00 WIB 09 Januari 2021 serta di Kp. Cibinong RT.02, RT.03 / RW.05 Desa Mekarmulya dan Kp. Pilar RT 07, RW 02 Desa Sukalaksana Kecamatan Talegong pada pukul 13.00 – 17.00 WIB 09 Januari 2021. Berdasarkan peta prakiraan potensi terjadinya Gerakan tanah provisi Jawa Barat bulan Desember 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana dan sekitarnya termasuk Zona potensi terjadinya Gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadinya Gerakan tanah. Arus lalin dan akses warga masyarakat dari Wilayah Cisewu ke arah Talegong, Pangalengan lumpuh total demikian juga arah sebaliknya. Kondsi ini diperparah dgn ambruknya jembatan sungai Citalegong pada jalur jalan provinsi di wilayah Kecamatan Talegong. Jumlah seluruh korban terdampak tanah longsor Desa Mekarmulya berjumlah 116 KK dengan jumlah jiwa 333 sedangkan desa Sukalaksana berjumlah 16 kk dengan jumlah jiwa 49.Tercatat sebanyak 67 KK 192 jiwa mengungsi di SDN 3 Mekarmulya dan 63 KK 170 Jiwa Mengungsi di kobong masjid RT 03,RW 04.Tidak ada korban jiwa meninggal dan hilang dalam kejadian ini

Februari

Di bulan Februari tahun 2021 terjadi bencana tanah longsor. Terdapat 194 kejadian an-nasr yang telah menyebabkan dampak Pak 330 jiwa dan mengakibatkan 629 jiwa mengungsi dan terdampak titik terdapat rumah rusak berjumlah total 132 unit rumah terdampak diantaranya 11 rusak berat 27 rusak sedang 59 rusak ringan dan diantaranya juga ada 35 terendam fasilitas pendidikan 2 unit fasilitas umum 5 unit Jembatan 4 titik ataupun unit Jalan 0,2 M2 sawah kebun part 2 m2.

Selama Februari, ada 3 kejadian bencana alam dari periode sejak tanggal 1 sampai dengan 28 diantaranya bencana tanah longsor 11 Kejadian diwilayah yang terdampak diantaranya meliputi Kecamatan Kadungora (1x Kejadian), Kecamatan Cilawu (1x Kejadian), Kecamatan Banjarwangi (3x Kejadian), Kecamatan Cisompet (1x Kejadian), dan Kecamatan Singajaya (1x Kejadian). Kejadian banjir meliputi wilayah Kecamatan Banjarwangi (1x Kejadian) dan Cuaca Ektrim di wilayah terdampak Kecamatan Cisompet (1x Kejadian). Dari 15 kejadian bencana tersebut, 90 diantaranya merupakan bencana hydrometeorology. Tanah Longsor menjadi kejadian bencana yang cukup banyak dibandingkan dengan kejadian banjir.

Berdasarkan keterangan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada Februari dan Maret wilayah Indonesia memasuki puncak musim penghujan. Sehingga, hujan dengan intensitas sedang sampai dengan tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.

Maret

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Maret menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. 30 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 13 kejadian banjir, 3 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Kejadian bencana tersebut menimpa 15 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Garut Kota dan Tarogong Kaler sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Sukawening, Pasirwangi, Tarogong Kidul, Wanaraja, Talegong, Sukaresmi, Pameungpeuk, Malangbong, Kadungora, Cisewu, Cibatu, Banyuresmi, dan Leles. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 428 jiwa terdampak, 2 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, 2 unit 2 rumah rusak ringan, 117 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas Pendidikan, 1 unit kios, 248 m TPT, 1 jembatan, dan 60 m jalan terdampak bencana.

Tanah longsor yang terjadi di Kampung Sintok RT 04, RW 02, Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. (Koordinat: o o 7 13’01.256” LS – 107 45’22.259” BT, Elevasi: 1510 mdpl) pada tanggal 23 Maret 2021 telah mengalami kejadian yang sama dalam skala relatif lebih kecil pada waktu-waktu sebelumya. Tebing longsoran memiliki dimensi lebar sekitar 30 meter dengan tinggi tebing longsoran mencapai sekitar 100 meter. Longsoran dipicu oleh beberapa faktor di antaranya: o o · Kondisi morfologi tebing yang memiliki kemiringan tinggi, hampir mendekati vertikal (70 -80 ). · Kondisi tanah di lokasi kejadian yang tersusun oleh tanah lapukan volkanik yang tidak terkonsolidasi sempurna. · Intensitas curah hujan tinggi dan durasi yang cukup panjang Dampak dari kejadian ini adalah satu unit (1 unit) rumah dalam kondisi rusak berat, tujuh unit (7 unit) rumah lainnya dalam kondisi terancam, satu KK (1 KK) terdampak, dan tujuh KK (7 KK) dalam kondisi terancam.

Upaya yang telah dilakukan oleh BPBD Kabupaten Garut adalah melakukan assessment ke lokasi kejadian, pemberian bantuan logistik, pendataan korban terdampak, pengambilan foto udara, dan berkoordinasi dengan pihak Kecamatan dan Dinas PUPR untuk upaya penanganan selanjutnya.

April

Bulan April adalah bulan dimana penurunan curah hujan dari bulan-bulan sebelumnya terjadi. Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah pada bulan April. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat bawah normal (BN). Namun, di beberapa wilayah di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat.

5 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini merupakan bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 2 kejadian tanah longsor, 1 kejadian banjir, dan 2 kejadian angina kencang. Kejadian bencana tersebut menimpa 5 kecamatan di Kabupaten Garut dengan masing-masing kecamatan mengalami 1 kejadian bencana diantaranya, Kecamatan Bayongbong 1 kejadian tanah longsor, Tarogong Kaler 1 kejadian angina kencang, Pasirwangi 1 kejadian angin kencang, Garut Kota 1 kejadian banjir, dan Cikajang 1 kejadian tanah longsor. Kejadian bencana ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 253 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak ringan, 54 unit rumah terendam, 1 unit fasilitas umum, 1 unit kios, 6 m jalan, dan 0,006 Ha terdampak bencana.

Kamis, 15 April 2021 pukul 18.00 WIB terjadi banjir di Kelurahan Kota Wetan Kabupaten Garut tepatnya di Kampung Sukaregang RT 03/04/05 RW 18. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota semenjak sore hingga malam hari, mengakibatkan terjadinya luapan air dari Selokan Cigulampeng di Kampung Sukaregang, Kota Wetan yang mulai terjadi pukul 18:00 WIB. Akibat luapan air ini, lima puluh empat (54) unit rumah di sekitaran area selokan terendam air setinggi 20 cm – 70 cm. Banjir di lokasi ini adalah banjir yang rutin terjadi beberapa tahun terakhir ketika musim hujan tiba, namun kejadian kali ini adalah kejadian yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banjir disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: intensitas hujan tinggi, lebar selokan yang sempit, pintu air yang macet sehingga memperlambat aliran air, terdapat kolam ikan yang meluap, dan posisi selokan lebih tinggi dibandingkan dengan pemukiman.

Mei

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada bulan mei 2021, adalah tanah longsor dengan 2 kejadian dan banjir dengan 1 kejadian dengan total kejadian 3 kejadian. Tercatat akibat kejadian tersebut 2 rumah terendam, 7 Jiwa terdampak, 0,002 jalan, 2 Ha Sawah/ Kebun dan 1 Unit Irigasi. Sejak awal 2021 hingga akhir Bulan Mei bencana Hidrometeorologi Tanah Longsor dan banjir masih mendominasi kejadian bencana yang terjadi di kabupaten Garut. Kecamatan Cilawu menjadi Kecamatan dengan kejadian tertinggi selama Bulan Mei, yaitu dengan 2 kejadian Bencana tanah longsornya.

Kecamatan Cilawu 2 kali dilanda Tanah longsor yaitu satu pada hari Senin, 17 Mei 2021 Pukul 05.00 WIB di Kampung Cigangsa Desa Sukamaju Kecamatan Cilawu kabupaten Garut. Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Garut Kota dan sekitarnya pada sore sampai malam hari, mengakibatkan tanah pada tebing jalan jenuh air dan menjadi tidak stabil sehingga terjadinya tanah longsor pada tebing dan menutup bahu jalan sepanjang 20 M. Pada hari Senin, 24 Mei 2021 Pukul 19.00 WIB terjadi lagi bencana tanah longsor di kecamatan Cilawu, tepatnya di Blok Cinangka, Kampung padarek RT/RW 05/02. Intensitas hujan yang tinggi semenjak sore hari mengakibatkan terjadinya longsoran dengan dimensi lebar 30 m dan tinggi 20 m di tebing sisi sungai sub DAS Cinangka. Longsoran ini mengakibatkan terjadinya penyumbatan sungai dan mengakibatkan terjadinya luapan air sungai ke area persawahan warga yang berada di sebelahnya. Air luapan sungai yang masuk ke sawah mengakibatkan tanah di area persawahan jenuh oleh air memicu terjadinya longsoran di area persawahan. Akibat kejadian ini, seluas 2 ha area persawahan milik warga rusak akibat luapan air dan longsor.

Longsor di area persawahan juga mengakibatkan tiang-tiang saluran irigasi gantung ambruk. Adapun upaya yang telah dilakukan adalah gotong-royong untuk membersihkan material longsoran yang menyumbat sungai, serta perkuatan sementara dengan menggunakan karung yang diisi material. Perlu dilakukan upaya lanjutan berupa perkuatan tebing longsoran dengan menggunakan bronjong serta perbaikan dan perkuatan tiang-tiang saluran irigasi gantung yang ambruk akibat longsoran.

Juni

Pada Juni 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 9 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 5 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, 1 kejadian kegagalan konstruksi, dan 2 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 673 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak berat, 14 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 220 unit kios, 18 meter TPT, 0,015 km jalan, dan 5,029 Ha. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Mei hingga bulan Juni. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Juni..

Tanggal 20 Juni 2021 pukul 23.00 WIB terjadi bencana kebakaran Pasar Sementara Leles yang secara administratif terletak di Alun-alun Leles, Desa Leles Kecamatan Leles sedangkan, secara geografis terletak di – 7.108294916616318˚ LS dan 107.8987042677023˚ BT. Daerah kejadian bencana merupakan pasar yang terdiri dari beberapa kios dan kaki lima yang padat. Material bangunan kios dan kaki lima adalah material yang mudah terbakar. Selain itu, letak lokasi kejadian merupakan pemukiman padat dan kawasan kantor pemerintahan. Adapun faktor penyebab kejadian kebakaran diduga karena percikan api yang terus menyebar pada material bangunan kios dan isinya. Sejumlah 412 kios dan 60 lapak kaki lima mengalami rusak berat karena hangus terbakar.

Juli

Agustus

Pada Agustus 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 7 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 4 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian banjir, dan 1 kejadian kebakaran. Pada Sebagian wilayah di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 107 jiwa terdampak, 4 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit kios, 0,21 km kolam, 24357,57 Ha, dan 1 unit konstruksi irigasi. Terjadi peningkatan frekuensi kejadian dari bulan Juli hingga bulan Agustus. Hal ini terjadi karena peningkatan curah hujan yang terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan kekeringan terjadi karena curah hujan pada bulan Juli hingga Agustus rendah meskipun di beberapa wilayah kadang terjadi hujan dengan instensitas tinggi.

Terjadinya kekeringan di wilayah di Kabupaten Garut terutama di wilayah Kecamatan Cibatu lalu disertai dengan kajian BPBD Garut mengenai kekeringan dengan hasil potensi kekeringan yang mungkin terjadi di Sebagian besar wilayah Kabupaten Garut mendorong dikeluarkannya surat keputusan tanggap darurat kekeringan pada bulan Agustus ini. Hal ini diantisipasi dengan mitigasi bencana kekeringan ke wilayah kejadian dan upaya penanganan darurat pada wilayah kejadian kekeringan.

September

Peningkatan curah hujan yang terjadi dari bulan Agustus ke bulan September tidak menjadikan adanya peningkatan kejadian bencana pada bulan September bahkan terjadi penurunan kejadian bencana. Pada September 2021 di wilayah Kabupaten Garut telah terjadi 5 kejadian bencana yang didmonimasi oleh geohidrometeorologi. Bencana tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi yang terjadi pada bulan ini, yaitu sejumlah 3 kejadian. Kemudian, selain itu terjadi 1 kejadian angin putting beliung, dan 1 kejadian kebakaran. Dampak yang diakibatkan dari kejadian ini meliputi 21 jiwa terdampak, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, dan 5 meter jalan terdampak.

Kecamatan Cilawu menjadi kecamaten dengan frekuensi kejadian paling tinggi yaitu 2 kali kejadian tanah longsor. Sedangkan, Kecamatan Talegong, Cibatu, dam Karangtengah mengalami masing-masing 1 kejadian bencana.

Oktober

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Oktober menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem hujan lebat hingga sangat lebat beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini.

23 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 13 kejadian tanah longsor, 7 kejadian banjir, dab 3 kejadian angin putting beliung. Kejadian bencana tersebut menimpa 12 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Tarogong Kidul sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 5 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Malangbong dengan 3 kejadian angina putting beliung dan 1 kejadian tanah longsor. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Cikelet, Cisompet, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang, Tarogong Kaler, Banjarwangi, Pameungpeuk, Cilawu, dan Samarang. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak maupun kerusakan yang terdiri dari 290 jiwa terdampak, 14 unit rumah rusak sedang, 4 unit rumah rusak ringan, 36 unit rumah terendam, 1 unit kantor pemerintah, 1 unit fasilitas ibadah, 0,21 Ha kolam, 10100 m2 sawah/kebun/lahan, 76 m2 TPT, dan 56 m jalan terdampak bencana.

Frekuensi kejadian tanah longsor dan banjir meningkat dari bulan[1]bulan sebelumnya. Curah hujan semakin tinggi dan memicu terjadinya tanah longsor dan banjir yang cukup intens terjadi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah berakumulasi hingga menjadikan tanah semakin jenuh dengan air dan menjadikan tanah longsor. Begitupun dengan air permukaan dengan debit cukup tinggi memicu terjadinya banjir. Bulan ini menjadi awal dari kejadian-kejadian yang relatif berskala besar yang terjadi pada bulan setelahnya.

November

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan November ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Berdasarkan sifatnya, curah hujan pada wilayah Kabupaten Garut pada bulan ini bersifat normal (N) hingga atas normal (AN). Beberapa titik di Kabupaten Garut mengalami curah hujan ekstrem pada beberapa kali. Peringatan dini cuaca pun kerap menjadi hal yang diwaspadai di setiap harinya pada bulan ini. Hal ini terbukti dengan pantauan secara visual dan laporan dari kecamatan – kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Garut yang menunjukan bahwa hujan terjadi hingga hampir setiap hari pada bulan ini.

Sejumlah 62 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 52 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir, 3 kejadian banjir bandang, 1 kejadian kebakaran, dan 4 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 23 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Balubur Limbangan sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 8 kejadian tanah longsor dan disusul dengan Kecamatan Tarogong Kaler dengan 3 kejadian tanah longsor, 1 kejadian kebakaran, dan 1 kejadian lainnya lalu selanjutnya Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Cisompet, Kecamatan Cilawu, Kecamatan Pakenjeng, dan Kecamatan Pasirwangi yang masing-masing megalami kejadian sebanyak 4 kali kejadian. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Banyuresmi, Bayongbong, Caringin, Cibalong, Cikelet, Kadungora, Karangpawitan, Karangtengah, Malangbong, Pamulihan, Pangatikan, Peundeuy, Sukaresmi, Sukawening, Talegong, dan Tarogong Kidul.

Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Pada hari Sabtu, 6 November 2021 banjir bandang terjadi di Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus pada sekitar wilayah kejadian. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut memicu tanah pada lereng menjadi jenuh dan kritis sehingga akhirnya tanah longsor terjadi di beberapa titik dan membendung aliran air sungai. Tanah longsor inilah yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di wilayah tersebut. Kejadian ini mengakibatkan 1202 jiwa terdampak, 21 jiwa mengungsi, 1 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, serta 1 unit jembatan rusak.

Setelah kejadian tersebut, banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa titik di Desa Cinta, Cintamanik, dan Caringin di Kecamatan Karangtengah serta Desa Sukawening, Mekarhurip, Mekarluyu, Sukamukti, dan Mekarwangi Kecamatan Sukawening. Berdasarkan pengkajian awal tersebut, kejadian banjir bandang tersebut terjadi pada hari Sabtu tanggal 27 November 2021 sekitar pukul 14.30 WIB. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang dan tanah longsor tersebut adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di hulu wilayah tersebut. Hal ini diperkuat oleh Peringatan Dini Cuaca Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat tanggal 27 November 2021 yang menyatakan bahwa pada tanggal 27 November 2021 pada pukul 13.20 WIB masih terjadi potensi Hujan Sedang-Lebat dan Angin Kencang di Kabupaten Garut yang meliputi Kecamatan Cibatu, Kersamanah, Malangbong, Sukawening, Karangtengah, dan Pangatikan. Kejadian bencana ini menimbulkan dampak berupa 6 unit rumah rusak berat, 12 unit rumah rusak sedang, 1 unit rumah rusak ringan, 79 unit rumah terendam, 2 unit fasilitas pendidikan, 1 unit sarana ibadah, 13 unit fasilitas umum, 3 unit jembatan, 32 Ha sawah/kebun, 3 unit peternakan, 505 m TPT, 300 m jalan, dan 5 unit irigasi terdampak bencana. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 2877 jiwa terdampak, 437 jiwa mengungsi, 10 unit rumah rusak berat, 20 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan, 86 unit rumah terendam, 6 unit fasilitas pendidikan, 3 unit fasilitas ibadah, 2 unit fasilitas kesehatan, 13 unit fasilitas umum, 10 unit kios, 1713 m2 TPT, 9 unit jembatan, 683 m jalan, 3372 m2 sawah/kebun/lahan, 2 unit peternakan, 0,1 Ha kolam, dan 6 unit konstruksi irigasi terdampak bencana.

Desember

Hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG pada bulan Desember ini menunjukan bahwa Kabupaten Garut mengalami curah hujan menengah hingga tinggi. Hal ini menunjukan penurunan intensitas dari bulan November namun, beberapa titik tetap mengalami curah hujan ekstrem beberapa kali.

Sejumlah 35 kejadian bencana terjadi pada bulan ini. Kejadian bencana ini didominasi oleh bencana geohidrometeorologi yaitu sebanyak 25 kejadian tanah longsor, 6 kejadian banjir, 3 angin putting beliung, dan 1 kejadian lainnya. Kejadian bencana tersebut menimpa 18 kecamatan di Kabupaten Garut dengan Kecamatan Talegong sebagai kecamatan dengan frekuensi kejadian paling tinggi, yaitu sebanyak 7 kejadian tanah longsor, 3 kejadian banjir, dan 1 kejadian putting beliung lalu disusul dengan Kecamatan Cisewu dengan 3 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian banjir lalu selanjutnya Kecamatan Singajaya dengan 2 kejadian tanah longsor dan 1 kejadian lainnya. Selain itu, terdapat pula kecamatan lainnya yang mengalami kejadian bencana pada bulan ini, yaitu Kecamatan Pamulihan, Kadungora, Pangatikan, Pakenjeng, Mekarmukti, Malangbong, Leles, Karangpawitan, Cilawu, Cikelet, Cibatu, Cibalong, Banyuresmi, Banjarwangi, dan Bl. Limbangan. Kejadian bencana pada bulan ini menyebabkan adanya dampak baik korban terdampak dan kerusakan yang terdiri dari 289 jiwa terdampak, 8 unit rumah rusak berat, 5 unit rumah rusak sedang, 57 unit rumah rusak ringan, 8 unit rumah terendam, 4 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas ibadah, 1 unit kantor pemerintahan, 2 unit fasilitas umum, 2 unit kios, 810 m2 TPT, 8 unit jembatan, 238 m jalan, 1071 m2 sawah/kebun/lahan, 11 unit peternakan, 0,28 Ha kolam, dan 1 unit konstruksi irigasi terdampak.

Sabtu, 25 Desember 2021, BPBD Kabupaten Garut menerima laporan dari Camat Talegong mengenai kejadian banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa titik di Desa Mekarmulya, Desa Mekarwangi, dan Desa Selaawi Kecamatan Talegong. Salah satu faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah di Kecamatan Talegong adalah intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari di wilayah tersebut.

Bencana ini berdampak pada 189 warga yang akhirnya mengungsi, 8 unit rumah rusak, 1 unit fasilitas rusak, 1 unit fasilitas kesehatan rusak, 6 unit fasilitas umum, 4 unit jembatan, 1 unit kantor pemerintahan, serta sejumlah pertanian dan peternakan terdampak. Dalam menghadapi dampak ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan upaya[1]upaya penanganan darurat serta aktivasi sistem komando penanganan darurat bencana

REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA TAHUN 2021

PENUTUP

Situs Terkait